Faktor Penghambat Mobilitas Sosial

Mobilitas Sosial : Dampak, Faktor, Bentuk dan Saluran
Mobilitas Sosial : Dampak, Faktor, Bentuk dan Saluran

Hallo sobat pelajar nusantara kita ketemu lagi ini, kali ini kami dari GuruIps.Co.ID akan berbagi materi  pelajar tentang Faktor Penghambat Mobilitas Sosial : Faktor, Bentuk dan Saluran secara lengkap, untuk lebih jelasnya mari simak artikel kami di bawah ini, semoga bermanfaat.


Faktor Penghambat Mobilitas Sosial

Ada beberapa faktor penting yang justru menghambat mobilitas sosial,  Faktor – faktor penghambat itu antara lain sebagai berikut.

  • Perbedaan Kelas Rasial

Seperti yang terjadi di Afrika Selatan di masa lalu, dimana ras berkulit putih berkuasa dan tidak memberi kesempatan kepada mereka yang berkulit hitam untuk dapat duduk bersama-sama di pemerintahan sebagai penguasa. Sistem ini disebut Apharteid dan dianggap berakhir ketika Nelson Mandela (Gambar 5.1), seorang kulit hitam, terpilih menjadi presiden Afrika Selatan.

  • Agama

Seperti yang terjadi di India yang menggunakan sistem kasta, menjadikan agama sebagai penghambat terjadinya mobilitas sosial. Hal ini dikarenakan tidak diperkenankannya terjadi interaksi antara manusia yang berbeda kasta.

  • Diskriminasi Kelas

Diskriminasi dalam sistem kelas terbuka dapat menghalangi mobilitas ke atas. Hal ini terbukti dengan adanya pembatasan suatu organisasi tertentu dengan berbagai syarat dan ketentuan, sehingga hanya sedikit orang yang mampu mendapatkannya.

Contoh: jumlah anggota DPR yag dibatasi hanya 500 orang, sehingga hanya 500 orang yang mendapat kesempatan untuk menaikan status sosialnya menjadi anggota DPR.

  • Kemiskinan

Kemiskinan bilamana keluarga tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok warga negara dalam jumlah sukuo dan memadai. dapat membatasi kesempatan bagi seseorang untuk berkembang dan mencapai suatu sosial tertentu.

Contoh: “A” memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya karena kedua orangtuanya tidak bisa membiayai, sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan status sosialnya.

  • Perbedaan Jenis Kelamin

Perbedaan jenis kelamin dalam masyrakat juga berpengaruh terhadap prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesempatan untuk meningkatkan status sosialya.


Beberapa Bentuk Mobilitas Sosial

  • Mobilitas Sosial Horizontal

Mobilitas horizontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dalam mobilitas sosialnya. Contoh: Pak Amir seorang warga negara Amerika Serikat, mengganti kewarganegaraannya dengan kewarganegaraan Indonesia, dalam hal ini mobilitas sosial Pak Amir disebut dengan Mobilitas sosial horizontal karena gerak sosial yang dilakukan Pak Amir tidak merubah status sosialnya.

  • Mobilitas Sosial Vertikal

Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu atau objek-objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, mobilitas sosial vertikal dapat dibagi menjadi dua, mobilitas vertikal ke atas (social climbing) dan mobilitas sosial vertikal ke bawah (social sinking).

  • Mobilitas Vertikal ke Atas (Social Climbing)

Mobilitas vertikal ke atas atau social climbing mempunyai dua bentuk yang utama, yaitu: (1) Masuk ke dalam kedudukan yang lebih tinggi, yaitu masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi, di mana kedudukan tersebut telah ada sebelumnya. Contoh: A adalah seorang guru sejarah di salah satu SMA. Karena memenuhi persyaratan, ia diangkat menjadi kepala sekolah; (2) Membentuk kelompok baru, yaitu pembentukan suatu kelompok baru memungkinkan individu untuk meningkatkan status sosial-nya, misalnya dengan mengangkat diri menjadi ketua organisasi. Contoh: pembentukan organisasi baru memungkinkan seseorang untuk menjadi ketua dari organisasi baru tersebut, sehingga status sosialnya naik.

  • Mobilitas Vertikal ke Bawah (Social Sinking)

Mobilitas vertikal ke bawah mempunyai dua bentuk utama, yaitu turunnya kedudukan dan turunnya derajat kelompok. Turunnya keduduk-an bilamana kedudukan individu turun ke kedudukan yang derajatnya lebih rendah. Contoh: seorang prajurit dipecat karena melakukan tindak-an pelanggaran berat ketika melaksanakan tugas.

  • Mobilitas Antar Generasi

Mobilitas antargenerasi secara umum berarti mobilitas dua generasi atau lebih, misalnya generasi ayah-ibu, generasi anak, generasi cucu, dan seterusnya. Mobilitas ini ditandai dengan perkembangan taraf hidup, baik naik atau turun dalam suatu generasi. Penekanannya bukan pada perkembangan keturunan itu sendiri, melainkan pada perpindahan status sosial suatu generasi ke generasi lainnya. Contoh: Pak Parjo adalah seorang tukang becak. Ia hanya menamatkan pendidikannya hingga sekolah dasar, tetapi ia berhasil mendidik anaknya menjadi Turunnya derajat kelompok. Derajat sekelompok individu menjadi turun yang berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan. Contoh: Juventus terdegradasi ke seri B. akibatnya, status sosial tim pun turun.

  • Mobilitas Intragenerasi

Mobilitas intragenerasi adalah mobilitas yang terjadi di dalam satu kelompok generasi yang sama. Contoh: Pak Darjo adalah seorang buruh. Ia memiliki anak yang bernama Endra yang menjadi tukang becak. Kemudian istrinya melahirkan anak ke-2 yang diberi nama Ricky yang awalnya menjadi tukang becak juga. tetapi Ricky lebih beruntung sehingga bisa mengubah statusnya menjadi seorang pengusaha becak, sementara Endra tetap menjadi tukang becak. Perbedaan status sosial antara Endra dengan adiknya di sebut mobilitas antargenerasi.

  • Gerak Sosial Geografis

Gerak sosial ini adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu daerah ke daerah lain seperti transmigrasi, urbanisasi, dan migrasi.


Faktor Mempengaruhi Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.

  • Perubahan Kondisi Sosial

Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi dapat menimbulkan stratifikasi baru.

  • Ekspansi Teritorial dan Gerak Populasi

Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat mem-buktikan ciri fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk.

  • Komunikasi Yang Bebas

Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antar strata yang beraneka ragam memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi mobilitas sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komuni-kasi yang bebas serta efektif akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial yang ada dan merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang.

  • Pembagian Kerja

Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan, maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut.

Baca Juga : Pengertian Mobiltas Secara Umum


Saluran-Saluran Mobilitas Sosial

  • Angkatan Bersenjata

Angkatan bersenjata apapun namanya di suatu negara, merupakan salah satu saluran mobilitas sosial (Gambar 5.2). Angkatan bersenjata me-rupakan organisasi yang dapat digunakan untuk saluran mobilitas vertikal ke atas melalui tahapan yang disebut kenaikan pangkat. Misalnya, seorang prajurit yang berjasa pada negara karena menyelamatkan negara dari pemberontakan, akan mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Dia mungkin dapat diberikan pangkat/kedudukan yang lebih tinggi, walaupun berasal dari golongan masyara-kat rendah.

  • Lembaga – Lembaga Keagamaan

Lembaga-lembaga keagamaan dapat mengangkat status sosial seseorang, misalnya yang berjasa dalam perkembangan Agama seperti kyai, santri, ustad, pendeta, biksu dan lain sebagainya.

  • Lembaga Pendidikan

Lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya merupakan salur-an yang konkrit dari mobilitas vertikal ke atas, bahkan dianggap sebagaisocial elevator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Contohnya seorang anak dari keluarga miskin mengenyam sekolah sampai jenjang yang tinggi. Setelah lulus ia memiliki pengetahuan dagang dan menggunakan pengetahuannya itu untuk berusaha, sehing-ga ia berhasil menjadi pedagang yang kaya, yang secara otomatis telah meningkatkan status sosialnya.

  • Organisasi Politik

Seperti angkatan bersenjata, organisasi politik memungkinkan anggotanya yang loyal dan berdedikasi tinggi untuk menempati jabatan yang lebih tinggi, sehingga status sosialnya meningkat.

  • Organisasi Ekonomi

Organisasi ekonomi (seperti perusahaan, koperasi, BUMN dan lain-lain) dapat meningkatkan tingkat pendapatan seseorang. Semakin besar prestasinya, maka semakin besar jabatannya. Karena jabatannya tinggi akibatnya pendapatannya bertambah. Karena pendapatannya bertambah akibatnya kekayaannya bertambah, dan karena kekayaannya bertambah status sosialnya di masyarakat meningkat.

  • Organisasi Keahlian

Orang yang rajin menulis dan menyumbangkan pengetahuan/ keahliannya kepada kelompok pasti statusnya akan dianggap lebih tinggi daripada pengguna biasa.

Keterlibatan seseorang dalam suatu kempok organisasi profesi atau keahlian mendorong yang bersangkutan mengalami perubahan sosial. Banyak ditemukan, keterlibatan individu dalam organisasi-organi-sasi tersebut dengan tujuan bukan untuk mengembangkan diri dan pemberdayaan diri serta pemberdayaan masyarakat, tetapi diperuntuk-kan bagi perubahan status sosialnya.

  • Perkawinan

Sebuah perkawinan dapat menaikkan status seseorang. Seorang yang menikah dengan orang yang memiliki status terpandang akan dihormati karena pengaruh pasangannya. Demikian halnya bila terjadi sebaliknya sebaliknya. Oleh karena itu, banyak ditemukan dalam masyarakat terjadi perkawinan yang tidak didasarkan rasa cinta kedua belah pihak tetapi didasarkan dalam upaya peningkatan status sosial masing-masing pihak.

Hal sejenis dapat kita temuai kalau kita membaca sejarah kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di Indonesia, dimana perkawinan antara anak raja sebagai upaya untuk menjalin perdamaian dan kerjasama diantara kerajaan tersebut.

Baca Juga : Pengertian Mobilitas Menurut Para Ahli


Dampak Mobilitas Sosial

Gejala naik turunnya status sosial tentu memberikan konsekuensi-konsekuensi tertentu terhadap struktur sosial masyarakat. Konsekuensi-konsekuensi itu kemudian mendatangkan berbagai reaksi. Reaksi ini dapat berbentuk konflik. Ada berbagai macam konflik yang bisa muncul dalam masyarakat sebagai akibat terjadinya mobilitas.

  • Konflik Antar Kelas

Dalam masyarakat, terdapat lapisan-lapisan sosial karena ukuran-ukuran seperti kekayaan, kekuasaan, dan pendidikan. Kelompok dalam lapisan-lapisan tadi disebut kelas sosial. Apabila terjadi perbedaan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat dalam mobilitas sosial maka akan muncul konflik antarkelas. Contohnya demonstrasi buruh yang menuntut kenaikan upah, menggambarkan konflik antara kelas buruh dengan pengusaha.

  • Konflik Antar Kelompok Sosial

Di dalam masyatakat terdapat pula kelompok sosial yang beraneka ragam. Di antaranya kelompok sosial berdasarkan ideologi, profesi, agama, suku, dan ras. Bila salah satu kelompok berusaha untuk menguasai kelompok lain atau terjadi pemaksaan, maka timbul konflik. Contohnya tawuran pelajar, perang antar kampung, perang antar suku, perang antar geng dan sebagainya.

  • Konflik Antar Generasi

Konflik antar generasi terjadi antara generasi tua yang mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan perubahan.

Contoh: Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua.

  • Penyesuaian Kembali

Setiap konflik pada dasarnya ingin menguasai atau mengalahkan lawan. Bagi pihak-pihak yang berkonflik bila menyadari bahwa konflik itulebih banyak merugikan kelompoknya, maka akan timbul penyesuaian kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa penyesuaian kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa saling menghargai. Penyesuaian semacam ini disebut akomodasi.

  • Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata

Kesempatan ini mendorong orang untuk mau bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas. Contohnya seorang anak miskin berusaha belajar dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa depan.

  • Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik

Mobilitas sosial yang terjadi pada masyarakat bisa mengakibatkan munculnya perubahan menuju yang lebih baik pada masyarakat. Contohnya masyarakat Indonesia yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jika didukung oleh sumber daya yang memiliki kualitas. Kondisi ini perlu didukung dengan peningkatan dalam bidang pendidikan.


Masyarakat Pedesaan (Rural Community) dan Masyarakat Perkotaan (Urban Community)

Istilah community diartikan sebagai masyarakat setempat, yang artinya menunjukkan pada warga sebuah desa, kota, suku atau bangsa. Apabila anggota-anggota sesuatu kelompok, baik kelompok itu besar maupun kecil, hidup bersama sedemikian rupa sehingga merasakan bah-wa kelompok tersebut dapat memenuhi kepentingan-kepentingan hidup yang utama, maka kelompok tadi disebut masyarakat setempat.

Kriteria utama bagi adanya suatu masyarakat setempat adalah adanya social relationship antara anggota suatu kelompok. Dengan me-ngambil pokok-pokok uraian di atas, dapat dikatakan bahwa masyarakat setempat menunjuk pada bagian masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah (dalam arti geografis) dengan batas-batas tertentu di mana faktor utama yang menjadi dasar adalah interaksi yang lebih besar diantara para anggotanya, dibandingkan dengan penduduk di luar batas wilayahnya (Soemardjan, 1962).

Secara singkat disimpulkan bahwa masyarakat setempat adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubung-an sosial yang tertentu. Dasar-dasar daripada masyarakat setempat adalah lokalitas dan perasaan semasyarakat setempat tersebut.

Baca Juga : Pengertian Mobilitas Sosial dan Cara Melakukannya

Suatu masyarakat setempat pasti mempunyai lokalitas atau tempat tinggal (wilayah) tertentu. Walaupun sekelompok manusia meru-pakan masyarakat pengembara akan tetapi pada saat-saat tertentu anggota- anggotanya pasti terkumpul pada suatu tempat tertentu, misal-nya bila mengadakan upacara-upacara tradisional. Masyarakat-masya-rakat setempat yang mempunyai tempat tinggal tetap dan permanen, biasanya mempunyai ikatan solidaitas yang kuat sebagai pengaruh kesatuan tempat tinggalnya.

Masyarakat modern, karena perkembangan teknologi alat-alat perhubungan, ikatan pada tempat tinggal agak berkurang, akan tetapi sebaliknya hal itu bahkan memperluas wilayah pengaruh masyarakat se-tempat yang bersangkutan. Secara garis besar, masyarakat setempat berfungsi sebagai ukuran untuk mengarisbawahi hubungan antara hubungan-hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu. Sebagai contoh, betapapun kuatnya pengaruh luar, misalnya bidang per-tanian mengenai soal cara-cara penanaman yang lebih efisien, penggu-naan pupuk dan sebagainya, akan tetapi masyarakat desa masih tetap mempertahankan tradisi yaitu ada hubungan yang erat dengan tanah, karena tanah itulah yang memberikan keidupan kepadanya. Akan tetapi tempat tingal tertentu saja, walaupun merupakan suatu dasar pokok, tidak cukup untuk membentuk masyarakat setempat. Disamping itu harus ada suatu perasaan di antara anggota bahwa mereka saling memerlukan dan bahwa tanah yang mereka tinggali memberikan kehidupan kepada semuanya. Perasaan demikian, yang pada hakikatnya merupakan identi-fikasi dengan tempat tinggal, dinamakan perasaan komuniti (comminity sentiment). Unsur-unsur perasaan komuniti (community sentiment) antara lain seperasaan, sepenanggungan dan saling memerlukan.

 

Melalui Logat Bahasa Yang Khas

Walaupun perkembangan komunikasi agak mengurangi fungsi ciri tersebut, akan tetapi setiap masyarakat setempat, baik yang berupa desa maupun kota, pasti mempunyai logat bahasa tersendiri. Kecuali, masing-masing masyarakat setempat mempunyai juga cerita-cerita rakyat dengan variasi tersendiri. Orang Lampung percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari Si Raja Lampung: akan tetapi masyarakat-masyarakat setempat mempunyai versi tersendiri mengenai sejarah nenek moyangnya. Demikian pula misalnya cerita Nyi Roro kidul, mempunyai bermacam-macam versi dengan daerah di mana cerita tadi berkembang.

Demikian pula soal pakaian bagi orang desa, bentuk dan warna pakaian tak menjadi soal karena yang terpenting adalah fungsi pakaian yang dapat melindungi diri dari panas dan dingin. Bagi orang kota, nilai pakaian adalah alat kebutuhan sosial, mahalnya bahan pakaian yang dipakai merupakan perwujudan dari kedudukan sosial si pemakai.

Ciri Masyarakat Kota

Ada beberapa ciri lagi yang menonjol pada masyarakat kota, antara lain sebagai berikut.

  1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehi-dupan agama di desa. Ini disebabkan cara berpikir yang rasional, yang didasarkan pada perhitungan eksak yang berhubungan de-ngan realita masyarakat. Memang di kota-kota, orang juga ber-agama, akan tetap pada umumnya pusat kegiatan hanya tampak di tempat-tempat ibadat seperti gereja, masjid, dan sebagainya. Di luar itu, kehidupan masyarakat berada dalam lingkungan ekono-mi, perdagangan dan sebagainya. Cara kehidupan demikian mempunyai kecenderungan ke arah keduniawian (seculer trend), dibandingkan dengan kehidupan warga desa yang cenderung ke arah agama (religious trend).
  2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain yang penting di sini adalah manusia perseorangan atau individu. Di desa orang lebih memen-tingkan kelompok atau keluarga. Di kota kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan karena perbedaan kepentingan, perbedaan paham politik, perbedaan agama dan seterusnya. Di kota individu kurang berani untuk seorang diri menghadapi orang-orang lain dengan lata belakang yang berbeda, pendidikan yang tak sama, kepentingan yang berbeda dan lain-lain. Nyata bahwa kebebasan yang diberikan kepada individu, tak dapat memberikan kebebasan yang sebenarnya kepada yang bersangkutan.
  3. Pembagian kerja di antara warga kota juga lebih tegas dan punya batas-batas nyata. Di kota, tinggal orang-orang dengan aneka warna latar belakang sosial dan pendidikan yang menyebabkan individu memperdalami suatu bidang kehidupan khusus. Ini mela-hirkan suatu gejala bahwa warga kota tak mungkin hidup sendiri-an secara secara individualistis. Pasti akan dihadapinya per-soalan-persoalan hidup yang berada di luar jangkauan kemam-puan sendiri. Gejala demikian menimbulkan kelompok-kelompok kecil (small group) yang didasarkan pada pekerjaan yang sama, keahlian yang sama, kedudukan yang sosial yang sama dan lain-lain. Kesemuanya dalam batas-batas tertentu membentuk pemba-tasan-pembatasan di dalam pergaulan hidup. Misalnya seorang guru SLTA lebih banyak bergaul dengan rekannya sesama guru pula, daripada dengan pedagang kelontong. Seorang sarjana ekonomi akan lebih banyak bergaul dengan rekannya dengan latar belakang pendidikan yang sama ketimbang dengan sarjana-sarjana ilmu sejarah.
  4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan, juga lebih banyak diperoleh warga kota daripada warga desa karena sistem pembagian kerja yang tegas daripada faktor pribadi.
  5. Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan interaksi-interaksi yang terjadi lebih di dasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.
  6. Jalan kehidupan yang cepat di kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
  7. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, karena kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh luar. Hal ini sering menimbulkan pertentangan antara golongan tua dengan golongan muda, oleh karena golongan muda yang belum se-penuhnya terwujud kepribadiannya, lebih senang mengikuti pola-pola daru dalam kehidupan.

Baca Juga : 


Berdasarkan sumber buku Ilmu Pengetahuan Sosial Nur Wahyu Rochmadi jilid II, kami guruips.co.id ingin berbagi tentang materi belajar Faktor Penghambat Mobilitas Sosia, Faktor, Bentuk & Saluran, mari simak artikel kami lainnya dan dari sumber – sumber buku terpercaya, Semoga Bermanfaat