Pengertian Cerita Rakyat

Pengertian Cerita Rakyat

Legenda atau cerita rakyat adalah cerita pada masa lampau yang menjadi ciri khas setiap bangsa yang memiliki kultur budaya yang beraneka ragam mencakup kekayaan budaya dan sejarah yang dimilki masing-masing bangsa.

Ada  beberapa pengertian mengenai arti kata dari legenda yang dikemukakan oleh beberapa ahli legenda (latin legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh empunya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi.

Dalam KBBI 2005, legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Cerita rakyat biasanya disampaikan secara lisan oleh tukang cerita yang hafal alur ceritanya. Itulah sebabnya cerita rakyat disebut sastra lisan.

Cerita disampaikan oleh tukang cerita sambil duduk-duduk di suatu tempat kepada siapa saja, anak-anak dan orang dewasa (Djamaris, 1993:6).

Jadi cerita rakyat adalah bagian dari karya sastra berupa dongeng-dongeng atau bentuk cerita lainnya yang berkembang di kalangan masyarakat tertentu dan disebarluaskan secara lisan dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Karena cerita rakyat merupakan bagian dari karya sastra, maka dalam kebudayaan cerita itu termasuk dalam salah satu unsur kebudayaan. Cerita rakyat merupakan salah satu perwujudan atau pikiran kelompok masyarakat pendukungnya.

Baca Juga : Fungsi dan Tujuan Debat

Fungsi Cerita Rakyat

Menurut Izy Prasetya bila mempelajari dengan seksama, ternyata cerita rakyat yang hidup di   kalangan masyarakat itu memiliki fungsi bermacam-macam. Setidaknya cerita rakyat memiliki tiga fungsi, yaitu :

  1. Fungsi Sarana Hiburan

Fungsi sarana hiburan yaitu dengan mendengarkan cerita rakyat sepeti dongeng, mite atau legenda, kita sekan-akan diajak berkelana ke alam lain yang tidak kita jumpai dalam pengalaman hidup sehari-hari.

  1. Fungsi Sarana Pendidikan

Fungsi sarana pendidikan yaitu pada dasarnya cerita rakyat ingin menyampaikan pesan atau amanat yang dapat bermanfaat bagi watak dan kepribadian para pendengarnya.

  1. Fungsi Sarana Penggalang

Fungsi sarana penggalang rasa kesetiakawanan diantara warga masyarakat yang menjadi pemilik cerita rakyat tersebut.

  1. Pengokoh Nilai – Nilai Sosial Budaya

Fungsi lain lagi dari cerita rakyat adalah sebagai pengokoh nilai-nilai sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat. Dalam cerita rakyat terkadang ajaran-ajaran etika dan moral bisa dipakai sebagai pedoman bagi masyarakat.

Di samping itu di dalamnya juga terdapat larangan dan pantangan yang perlu dihindari. Cerita rakyat bagi warga masyarakat pendukungnya bisa menjadi tuntunan tingkah laku dalam pergaulan sosial.

Baca Juga :  Interaksi Sosial

Jenis – Jenis Cerita Rakyat

Menurut William R Bascom (dalam James Danandjaya 1991:50,    cerita rakyat dibagi dalam tiga golongan besar yaitu :

  • Mitos (Mite)

Mitos (mite) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi setelah dianggap suci oleh empunya. Mite ditokohkan oleh dewa atau makhluk setengah dewa.

Peristiwanya terjadi di dunia lain atau bukan di dunia yang sepertikita kenal sekarang ini dan terjadi di masa lampau.

  • Legenda

Legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci.

Berbeda dengan mite, legenda ditokohi oleh manusia walaupun adakalanya sifat-sifat luar biasa dan seringkali juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. Tempat terjadinya di dunia yang kita kenal dan waktu terjadinya belum terlalu lama.

  • Dongeng

Dongeng adalah prosa rakyat yang dianggap benar-benar oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terkait waktu maupun tempat.

Baca Juga :  Konflik Sosial

Isi Cerita

Kisah Cinta Dewi Sulastri

Cerita rakyat yang mengisahkan kerajaan Mataram. Kerajaan Mataram diawali dari pembagian wilayah yaitu yang menguasai  wilayah brang wetan dan brang kulon (bahasa Jawa sebelah barat dan sebelah timur) diantaranya Kadipaten Pucang Kembar yang dipimpin oleh Hadipati Citro Kusumo, Kadipaten Bulupitu di pimpin oleh Jaka Puring dan Kadipaten Karang Gumelem.

Cerita ini diawali masa kepemimpinan Kanjeng Susuhan Sayidin Panotogomo.  Dalam cerita ini yang menjadi lakon adalah sebagian dari wilayah brang kulon .

Pada waktu itu Hadipati Pucang Kembar mempunyai putri yang cantik jelita bernama Dewi Sulastri. Hadipati Bulupitu Raden Jaka Puring terkenal sakti mandraguna tetapi belum punya istri dan dia menderita cacat yaitu bibirnya tebal sebelah (istilah Jawa mengrot) dan kakinya pincang mendengar bahwa di Kadipaten Pucang Kembar ada seorang putri cantik anak dari Hadipati Citro Kusumo maka Jaka puring ingin mempersuntingnya sebagai istri.

Dan setelah Raden Jaka Puring melihat kecantikan Dewi Sulastri ia lalu melamarnya namun belum diterima atau masih ditangguhkan karena Jaka Puring adalah seorang pemuda yang cacat maka ia disuruh menunggu dan dipersilahkan untuk tinggal sementara di Pucang Kembar.

Tidak lama kemudian datanglah seorang pemuda tampan dari Kadipaten Karang Gumelem bernama Raden Jono yang bermaksud hendak melamar pekerjaan di Kadipaten Pucang Kembar sambil mencari saudara kandungnya yang bernama Raden Wiro Kusumo, namun Sang Hadipati Citro Kusumo bingung karena tidak ada pekerjaan untuk Raden Jono bersamaan dengan itu putri Sang Hadipati Citro Kusumo yaitu Dewi Sulastri melihat pemuda tampan itu maka tertarik hatinya dan mengajukan usul kepada Kanjeng Romonya ( bahasa Jawa Ayah ) agar Raden Jono diterima bekerja di Kadipaten Pucang Kembar.

Baca Juga : Masalah Sosial 

Akhirnya Sang Hadipati menerima Raden Jono sebagai juru taman di Kaputren Dewi Sulastri. Karena sering bertemu antara Raden Jono dan Dewi Sulastri saling jatuh cinta (Pepatah Jawa mengatakan , ” Witeng Tresno Jalaran Soko Kulino” ).

Sementara dalam penantiannya Raden Jaka Puring sudah jemu menunggu jawaban dari Dewi Sulastri. Ia merasa curiga dengan hubungan Dewi Sulastri dan Raden Jono maka sambil menunggu jawaban dari Dewi Sulastri, Raden Jaka Puring menyuruh Pangeran Usmono Usmani ( adik Dewi Sulastri ) untuk mengawasi gerak-gerik Dewi Sulastri dan Raden Jono.

Berdasarkan pengamatannya, Pangeran Usmono Usmani melaporkan bahwa Dewi Sulastri telah menjalin cinta dengan Raden Jono.

Mendengar laporan itu Raden Jaka Puring merasa tersinggung dan mengambil kesimpulan bahwa dirinya ditolak karena Dewi Sulastri berpacaran dengan Raden Jono. Jaka Puring marah dan terjadilah perang antara Raden Jono dan Raden Jaka Puring.

Singkat cerita pertempuran yang tidak seimbang itu membuat Raden Jono kalah dan lari mencari perlindungan ke Pesanggrahan Pring Ori (kelak bernama desa Ori di wilayah kecamatan Kuwarasan).

Raden Jono minta perlindungan pada Kyai Karyadi dan disuruh sembunyi di dalam lumbung dan di tutup pakai kapuk (kapas), tidak lama kemudian Raden Jaka Puring sowan pada Kyai Karyadi dan menanyakan keberadaan Raden Jono namun sang Kyai membohonginya dan mengatakan bahwa Raden Jono tidak berada di pesanggrahan Pring Ori.

Jaka Puring lalu pulang kembali ke Kadipaten Bulu Pitu. Setelah Jaka Puring pergi maka Raden Jono dikeluarkan dari lumbung dan ditanya apa sebabnya Raden Jono dikejar-kejar oleh Raden Jaka Puring.

Raden Jono menceritakan pada Kyai bahwa perjalanannya ke Pucang Kembar untuk melamar pekerjaan sambil mencari saudara kandungnya Pangeran Wiro Kusumo setelah tiba di Pucang Kembar diterima sebagai juru taman dan dicintai oleh Dewi Sulastri .

Tapi karena Dewi Sulastri telah jatuh cinta kepada Raden Jono akhirnya Raden Jaka Puring cemburu dan terjadi pertarungan antara Raden Jono dan Raden Jaka Puring sampai akhirnya Raden Jono kalah dan lari ke Pesanggrahan Pring Ori untuk menimba ilmu di pesanggrahan sehingga bisa mengalahkan Raden Jaka Puring dan memperistri Dewi Sulastri.

Baca Juga :  Pengendalian Sosial

Mendengar jawaban dari Raden Jono sang kyai memberi saran. Untuk mencapai tujuannya Raden Jono harus bersemedi (bertapa) di bawah pohon besar bernama Wit Benda (Pohon Benda : bahasa Jawa) dan pohon itu berada di daerah yang angker namun dalam melakukan semedi itu harus dengan hati yang tulus, suci dan sabar.

Pada akhirnya pertapaannya mendapatkan hasil dari yang Maha Kuasa dengan memperoleh pusaka berupa Bungkul Kencana (keris : bahasa Jawa).

Dan akhirnya Raden Jono pulang ke Pucang Kembar bertemu dengan Dewi Sulastri dan ternyata Raden Jaka Puring sudah berada di Pucang Kembar untuk menanyakan jawaban Dewi Sulastri atas lamarannya Dewi Sulastri menjawab bahwa dia mau dipersunting oleh siapapun namun ia punya bebana awujud adon-adongiri patembaya (bahasa jawa permintaan pertarungan) antara Raden Jono dan Jaka Puring.

Maka terjadilah pertarungan sengit antar keduanya yang dimenangkan oleh Raden Jono maka dikawinkanlah Dewi Sulastri dengan Raden Jono sedang Raden Jaka Puring lari dan pulang ke Bulu Pitu.

Bersamaan dengan itu Hadipati Pucang Kembar mendapat surat mandat (nawala) dari Susuhunan Sayidin Panatagama ( Raja Mataram ) untuk memberantas gerombolan berandal di Gunung Tidar.

Akhirnya Hadipati Pucang Kembar Citro Kusumo memerintahkan menantunya sebagai bukti pengabdiannya untuk memberantas berandal di Gunung Tidar atau sebagai Duta Pamungkas.

Mendengar berita bahwa Raden Jono diberi mandat untuk menjadi Duta Pamungkas Raden Jaka Puring yakin bahwa Raden Jono pasti gugur melawan gerombolan berandal di Gunung Tidar maka Raden jaka Puring menuju ke Pucang Kembar untuk menemui dan merebut Dewi Sulastri.

Dalam keadaan Dewi Sulastri sendiri tanpa suami dipaksa oleh Raden Jaka Puring untuk mengikuti kemauan Raden Jaka Puring menjadi istrinya.

Sebagai seorang istri yang setia kepada suami Dewi Sulastri tidak mau mengkhianati Raden Jono maka akhirnya Raden Jaka Puring membawa lari dengan paksa Dewi Sulastri keluar dari kaputren.

Sementara itu Raden Jono sampai di Gunung Tidar menjelang malam dan menunggu munculnya gerombolan berandal.

Setelah malam datang akhirnya gerombolan pengacau itu muncul dan bertarunglah Raden Jono melawan gerombolan yang terkenal bengis dan sakti mandraguna namun dengan kesaktian dan niat suci pengabdiannya kepada negara dan orang tua serta berbekal Pusaka Bungkul Kencana akhirnya Raden Jono bisa mengalahkan gerombolan berandal itu dan membunuh pimpinannya dengan Bungkul Kencana .

Dalam keadaan keris terhunus diperut pimpinan gerombolan itu menyebut-nyebut nama saudara kandungnya. Ternyata pimpinan dari gerombolan itu Raden Wiro Kusuma yang merupakan kangmasnya sendiri.

Betapa sedihnya perasaan Raden Jono memikirkan garis hidupnya yang harus melaksanakan tugas negara dengan meninggalkan istri tercinta dan ternyata harus membunuh kakak kandungnya sendiri .

Raden Jono pun pulang ke Pucang Kembar membawa kemenangan berselimut kesedihan karena harus mengorbankan nyawa saudara kandungnya yang selama ini sedang dicarinya demi pengabdiannya kepada mertua dan negara.

Sesampai di Pucang Kembar semakin terguncang perasaan Raden Jono mendapati Dewi Sulastri telah dibawa lari oleh Raden Jaka Puring.

Dalam keadaan lelah dan terguncang Raden Jono pun mengembara mencari keberadaan Dewi Sulastri menjelajah setiap wilayah sampai akhirnya tiba di pesisir selatan .

Sementara itu pelarian Raden Jaka Puring membawa Dewi Sulastri juga ke pesisir selatan . Sepanjang perjalanan Raden Jaka Puring senantiasa merayu Dewi Sulastri agar bersedia malayaninya namun rasa cinta dan kesetiaannya kepada Raden Jono tetap dipegang teguh oleh Dewi Sulastri sampai akhirnya Raden Jaka Puring kehilangan kesabarannya dan akhirnya Dewi Sulastri diikat pada sebuah pohon pandan.

Bersamaan dengan itu perjalanan Raden Jono sudah sampai di tempat itu namun sebelum ia bertemu dengan Dewi Sulastri ternyata Raden Jaka Puring telah lebih dulu melihat kedatangannya.

Dengan sekonyong- konyong Raden Jaka Puring menyerangnya sehingga terjadi pertempuran yang sengit antara Raden Jono melawan Raden Jaka Puring. Dalam pertempuran itu Raden Jaka Puring terdesak dan kalah lalu melarikan diri ke arah utara.

Raden Jono lalu menemui Dewi Sulastri yang masih terikat di pohon pandan. Terjadi suatu keajaiban bahwa pohon pandan tempat mengikat Dewi Sulastri berubah warna menjadi kuning sedang pohon pandan yang lain tetap berwarna hijau.

Maka oleh Raden Jono tempat itu diberi nama Pandan Kuning (kelak menjadi Pesanggrahan Pandan Kuning). Keajaiban kembali terjadi, setelah Raden Jono melepas ikatan Dewi Sulastri mereka lalu ditemui oleh Nyi Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan) dan bidadari dari kayangan Dewi Nawang Wulan.

Oleh Nyi Roro Kidul Dewi Sulastri disuruh pulang ke Pucang Kembar dengan perlindungan dari Nyi Roro Kidul dan Dewi Nawang Wulan.

Sedang Raden Jono disuruh mengejar Raden Jaka Puring ke arah utara. Perjalanan Raden Jono mengejar Raden Jaka Puring ke arah utara masuk ke sebuah hutan lebat yang banyak ditumbuhi pohon gadung penuh duri sebagai tempat persembunyian Raden Jaka Puring.

Disetiap langkahnya Raden Jono kesrimpet-srimpet wit gadung (bahasa Jawa terhalang pohon gadung) hampir di setiap pori-pori kulitnya terselip duri gadung hingga darah bercucuran maka alas atau hutan itu oleh Raden Jono dinamakan Karanggadung (kelak menjadi desa Karanggadung).

Pertarungan itu terus berlanjut sampai ke beberapa desa yang di lewati dan memberi  nama-nama desa-desa tersebut.

  • Desa Munggu ( perasaan mangu-mangu atau ragu-ragu)
  • Desa Petanahan ( membuat benteng pertahanan)
  • Desa Pada Urip ( airnya berbau banger karena bangkai manusia yang mati dan tidak dikubur dengan keajaiban hidup kembali )
  • Desa Jatimulya ( banyak pohon jati dan masyarakatnya mulya)
  • Desa Karanggedang ( banyak ditumbuhi wit gedang atau pisang)
  • Desa Guyangan ( banyak orang sedang memandikan atau guyang hewan)
  • Desa Alang-alang Amba ( alas yang berupa alang-alang yang luas)
  • Desa Kuwarasan ( mereka kelelahan dan bisa bertahan hidup)
  • Kecamatan Puring ( mereka merasa kesal dan muring-muring)
  • Desa Wedi Gugur ( setiap melangkah wedinya gugur)
  • Desa Karangbolong ( Raden Jaka Puring tersungkur dan mengenai karang hingga tembus atau bolong.

Namun Raden Jaka Puring masih berusaha lari ke utara sampai akhirnya kehabisan tenaga sehingga tergelincir ke sungai dan pada kesempatan itu Raden Jono menghunus pusaka Bungkul Kencono dan menancapkanya ke tubuh Raden Jaka Puring dan terjadilah suatu keajaiban Raden Joko Puring berubah menjadi buaya putih dan melontarkan sumpah serapah kepada Raden Jono bahwa dia menerima kekalahanya tidak bisa memperistri Dewi Sulastri dan menerima karma menjadi buaya putih

Namun bersumpah bahwa setiap keturunan Raden Jono yang memakai pakaian sama dengan yang dipakai oleh Dewi Sulastri akan menjadi mangsa atau dimakan oleh buaya putih, pakaian itu adalah mbayak ijo gadung ( kebayak ), jarit amba lurik (kain/tapih) dan benting tritik (stagen).

Atas kejadian itu oleh Raden Jono tempat itu diberi nama ”Buayan” kelak menjadi kecamatan Buayan.Dengan rasa letih dan tubuh yang penuh luka Raden Jono pulang ke Pucang Kembar membawa rasa suka cita atas kemenangannya melawan Raden Jaka Puring.

Suasana haru meliputi Kadipaten Pucang Kembar saat pertemuan antara Raden Jono dan Dewi Sulastri beserta keluarga kadipaten. Akhirnya Raden Jono dinobatkan sebagai Hadipati di Pucang Kembar.

Kajian Struktur Cerita Rakyat

Cerita rakyat sebagai bagian dari karya sastra memiliki unsur-unsur yang saling terkait sehingga mendukung kepaduan cerita. Unsur-unsur ini adalah

  1. Tema

Tema adalah gagasan atau ide yang mendasari cerita.

Dalam cerita rakyat “Kisah Cinta Dewi Sulastri” peristiwa yang diceritakan adalah peristiwa peperangan antara Raden Jono dan Raden Jaka Puring dalam memperebutkan cinta Dewi Sulastri dan meriwayatkan asal usul beberapa desa di Kebumen wilayah barat.

  1. Latar atau setting

Latar atau setting adalah penggambaran tempat, waktu, dan situasi yang menjadi ruang bagi tokoh-tokoh untuk hidup dan mengalami berbagai peristiwa.

Baca Juga : Tahapan Integrasi Sosial

Dalam cerita rakyat Kisah Cinta Dewi Sulastri latar yang digunakan adalah latar tempat. Di mana peristiwa-peristiwa dalam cerita digambarkan dengan menempati beberapa tempat.

  1. Alur (plot)

Alur adalah kerangka cerita yang saling menjalin berkaitan erat dengan perjalanan tokoh-tokohnya, dan terdapat hubungan kausalitas dari peristiwa-peristiwa tokoh, ruang maupun waktu.

Apabila dicermati dari isi cerita Kisah Cinta Dewi Sulastri alur yang digunakan adalah alur maju atau alur lurus. Secara berurutan diceritakan asal usul tokoh cerita dimulai dari kerajaan Mataram yang dalam cerita fokus kepada brang kulon yaitu dari tokoh Raden Joko Puring, Raden Jono dan Dewi Sulastri sampai terjadi konflik yaitu perebutan cinta Dewi Sulastri yang pada akhirnya  Raden Jono lah yang memenangkan cinta Dewi Sulastri dengan memperistrinya melalui peperangan sengit dengan Raden Joko Puring.

Jadi kejadian atau peristiwa dalam cerita berjalan secara berurutan dari awal sampai akhir.

  1. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku dalam cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menggambarkan perwatakan tokoh/pelaku.

Tokoh utama dalam cerita Kisah Cinta Dewi Sulastri adalah pertama Raden Joko Puring  yang memiliki watak pantang menyerah, berkemauan keras, sombong, jahat,  pemaksa, serta tidak punya perasaan, yang kedua yaitu Raden Sujono yang berkarakter pantang menyerah, pekerja keras, baik, setia, jujur, rela berkorban dan cinta keluarga yang  ketiga yaitu Dewi Sulastri di mana Dewi Sulastri adalah sumber dari terjadinya konflik antara Raden Joko Puring dan Raden Jono  yang memiliki karakter setia, patuh kepada suami.

Tokoh pendukung cerita yang ikut dalam cerita yaitu Susuhan Sayidin Panatagama  (Raja Mataram),  Hadipati Citro Kusumo, Pangeran Usmono Usmani, kyai Karyadi, Raden Wiro Kusumo, Nyi Roro Kidul dan Dewi Nawang Wulan.

  1. Amanat

Amanat adalah  pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca dalam cerita .

Amanat yang terdapat dalam Kisah Cinta Dewi Sulastri yaitu:

  • Kita hendaknya tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  • Kita hendaknya memiliki sikap pantang menyerah dan berusaha keras.
  • Kita hendaknya terus menimba ilmu , disertai usaha keras untuk mencapai keberhasilan.
  • Seorang pemimpin yang besar harus setia dan mengabdi kepada negaranya.
  • Seorang istri hendaknya selalu setia kepada suaminya.
  • Kita mengetahui bahwa kebenaran pasti akan selalu menan.

Nilai – Nilai yang Terkandung Dalam Cerita Rakyat

Nilai adalah hakikat hal yang menyebabkan hal tersebut pantas dijalankan oleh manusia (Arijarkora dalam Evangelis, 2001 : 11).

Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa nilai itu sendiri sesungguhnya berkaitan erat dengan kebaikan, yang membedakannya adalah kebaikan lebih melekat pada halnya, sedangkan nilai lebih merujuk pada sikap orang terhadap sesuatu atau hal yang baik.

Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu untuk selanjutnya mengambil keputusan.

Baca Juga : Macam Macam Pranata Sosial

Keputusan nilai dapat dikatakan berguna atau tidak berguna, baik atau tidak baik, religius atau tidak religius. Hal itu dihubungkan dengan unsur-unsur yang melekat pada diri manusia yaitu jasmani, cipta rasa, dan kepercayaan.

Sesuatu dikatakan bernilai apabila sesuatu itu berguna, benar (nilai kebenaran), indah (nilai etetis) baik (nilai etis/moral), religius (nilai agama)

Nilai Kearifan Lokal Kisah Cinta Dewi Sulastri yaitu:

  • Nilai Kepemimpinan

Sikap kemimpinan berupa keteladanan pada diri tokoh cerita dapat ditemukan dari Kisah Cinta Dewi Sulastri. Sikap keteladanan itu antara lain perjuangan Raden Jono dalam memperjuangkan negaranya, tetap setia melindungi istrinya dan menghormati kepada mertuanya.

  • Nilai Pengabdian

Nilai pengabdian bisa diartikan sebagai nilai-nilai yang ada pada diri tokoh. Dalam Kisah Cinta Dewi Sulastri terdapat nilai pengabdian dari sang tokoh yaitu pengabdian Raden Jono dalam kepatuhannya terhadap kerajaannya dan mertuanya yaitu Hadipati Citro Kusumo yang merupakan pemimpin Kadipaten Pucang Kembar.

Demi pengabdiannya terhadap kerajaannya sampai kangmasnya yang selama ini dicari terbunuh di tangannya sendiri yang diketahui sebagai pemimpin brandal.

  • Nilai Tradisi dan Budaya

Nilai tradisi dan budaya dapat ditemukan dalam contoh tempat Pandan Kuning yang dijadikan tempat pesanggrahan, yang dianggaap memiliki makna tertentu dan sebagainya, dan Karang Bolong yang selama ini dianggap sebagai tempat kramat

  • Nilai Sosial

Nilai sosial adalah nilai kesetiakawanan sosial membantu yang lemah. Dalam Kisah Cinta Dewi Sulastri dapat ditemukan pada tokoh kyai  Karyadi yaitu mau melindungi,  memberikan saran dan ilmu pada Raden Jono ketika dalam kesusahan.

Nilai Kependidikan

  • Nilai Kepahlawanan

Dalam cerita Kisah Cinta Dewi Sulastri terdapat nilai kepahlawanan yaitu pada tokoh Raden Jono yang mau bekerja apa saja yang penting itu baik, sikap kepahlawanannya rela berkorban demi kerajaannya, tidak mudah putus asa dan pantang menyerah untuk dapat mencapai tujuannya dengan disertai usaha keras dengan mencari ilmu.

  • Nilai Etika dan Moral

Dari cerita ini dapat diketahui bagaimana etika dan moral ditegakkan terutama yang berkaitan dengan diri tokoh Raden Jono.

Cerita ini meninggalkan pelajaran berharga, bagaimana tokoh berjuang dari bawah sampai menjadi Hadipati dengan melalui perjuangan yang hebat dengan usaha keras, pantang menyerah dengan penuh keyakinan tetapi tidak melupakan pada nilai kearifan lokal dengan berguru mencari ilmu, dan semedi, menghormati yang lebih tua, menjaga kepercayaan dan nama baik, apabila kita memiliki cita-cita yang belum tercapai.

  • Nilai Budi Pekerti

Nilai budi pekerti berupa ajaran kebaikan, menunjukan mana yang benar dan salah, seperti nilai-nilai kejujuran, kesopanan, kesetiaan dan sebagainya.

Dalam Kisah Cinta Dewi Sulastri banyak terkandung nilai budi pekerti yang dapat kita jumpai terutama  dari tokoh Raden Jono sifatnya dapat kita jadikan sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari.

  • Nilai Religius

Nilai-nilai religius (keagamaan) yang bersifat kepercayaan, penghormatan kepada leluhur dan sebagainya bisa ditemukan dalam cerita Kisah Cinta Dewi Sulastri pada masa dulu yaitu dianggapnya Pandan Kuning sebagai tempat sakral.

Demikian juga dengan kepercayaann ketika ke laut kita tidak boleh mengenakan pakaian berupa mbayak ijo gadung ( kebayak ), jarit amba lurik (kain/tapih) dan benting tritik (stagen) karena dipercaya akan mengakibatkan bencana yaitu menjadi mangsa buaya putih.

Demikian pembahasan dari kami tentang Pengertian Certia Rakyat Kajian, Struktur Hingga Nilai secara lengkap dan jelas, semoga bermanfaat jangan lupa di share sobat guruips.co.id