Sejarah Berdirinya Kerajaan Singasari

Sejarah Berdirinya Kerajaan Singasari

Singasari terletak di sebelah timur Gunung Kawi di hulu Sungai Brantas di daerah Jawa timur. Pada abad ke 13, Singasari hanya merupakan desa kecil yang tidak berarti keadaan itu lambat laun berubah bertepatan dengan munculnya seorang pemuda yang bernama Ken Arok.

Dalam kitab pararathon ( kitab para raja) yang memuat kisah para raja dari kerajaan majapahit dan singasari, diberitakan tentang munculnya sosok Ken Arok yang menjelma menjadi raja pertama dari kerajaan singasari.

Dalam kitab tersebut diberitakan lahirnya Ken Arok pada tahun 1104 Saka atau 1182 Masehi. Ia adalah seorang anak dari perempuan petani yang bernama Ken Endok dan suaminya Gajah Para. Mereka tinggal di Desa Pangkur Tumapel yang termasuk kekuasaan dari kerajaan Kadiri.

Keadaan ekonomi yang sangat buruk yang dialami oleh kedua orang tua Ken Arok mengakibatkan pada saat masih bayi, ia di buang dengan cara di hanyutkan ke Sungai Brantas dengan harapan Ken Arok dirawat oleh orang yang berekonomi berkecukupan dan mampu merawat Ken Arok sampai dewasa.

Namun, pengharapan dari kedua orang tua Ken Arok tidak terkabulkan. Ken Arok Justru ditemukan oleh seorang pencuri yang bernama Lembong. Akhirnya Ken Arok tumbuh dan berkembang menjadi seorang pencuri yang cerdik.

Setelah banyak meresahkan warga raja Kertajaya yang memerintah kerjaan Kadiri mengutus Adipati Tunggul Amatung untuk menangkap Ken Arok di mana pun ia berada.

Baca Juga : Ciri Masyarakat Pra Aksara

Adipati Tunggul Ametung memerintahkan para prajuritnya untuk mencari dan menangkap Ken Arok.  Semula, Ken Arok sudah berhasil ditangkap, tetapi ia bisa melarikan diri ke kerajaan tetangga dengan cara terbang.

Dewa Wisnu pun melihat bahwa didalam dirinya Ken Arok tersimpan bakat yang luar biasa untuk menjadi raja besar. Ia lantas mengirimkan seorang Brahmana yang bernama Lohgawe untuk melindungi sekaligus mengubah Ken Arok menjadi baik.

Mereka bertemu di hutan sekaligus mengajak Ken Arok untuk tinggal di rumahnya daan meminta berhenti menjadi pencuri. Karenamerasa bertemu dengan titisa Dewa Wisnu, maka Ken Arok menuruti semua prkataan Lohgawe.

Setelah beberapa tahuun Ken Arok hidup bersama Lohgawe, ia di ajak Lohgawe untuk mengabdi kepada Adipati Tunggul Ametung di Tumapel ( kerajaan bagian dari kerajaan Kadiri ), kemudian ia pun diterima untuk bekerja menjadi pengawal di Istana Tumapel.

Setelah itu Adipati Tunggul Ametung melakukan penyerangan di  Desa Panawijen dan membawa lari seorang gadis cantik bernama Ken Dedes yang merupakan anak dari seorang pujangga Budha yang bernama Empu Purwa.

Kemudian  Adipati Tunggul Ametung dan Ken Dedes pun menikah. Tak lama dari pernikahan tersebut Ken Dedes pun hamil, pada saat hamil muda yang diutus untuk meletakkan bangku kecil injakan kaki Ken Dedes.

Secara tidak sengaja, Ken Arok melihat cahaya yang dicurigainya sebagai tanda-tanda kebesaran Ken Dedes.

Dari situlah Ken Arok terpesona kepada Ken Dedes dan ingin menikahi Ken Dedes dengan Mengahalalkan berbagai macam cara termasuk membunuh Adipati Tunggul Ametung.

Ia meminta bantuan kepada Empu Gandring untuk membuatkan keris yang ia gunakan untuk membunuh Adipati Tunggul ametung.

Setelah berbulan-bulan menunggu keris itu jadi Ken Arok datang menemui Empu Gandring dan membunuhnya karena terlalu lama menyelesaikan kerisnya.

Kemudian mengambil keris dan meminjamkan kepada Kebo Ijo. Sebelum meminjamkan kerisnya Ken Arok meminta keepada Kebo Ijo agar jika ditanya mengenai keris itu ia selalu menjawab bahwa keris itu miliknya.

Setelah beberapa lama di pinjamkan Ken Arok diam-diam mengambil keris itu dan menusukkan kerisnya ke tubuh Adipati Tunggul Ametung.

Pada saat itu Ken Dedes melihat bahwa yang menusuk suaminya itu Ken Arok tetapi Ken Dedes diam, kemudian Ken Arok menetapkan Kebo Ijolah yang memiliki keris itu sebagai pelaku pembunuhan Adipati Tunggul Ametung dan Ken Arok diangkat menjadi Adipati Tumapel menggantikan Adipati Tunggul Ametung.

Saat menjadi Adipati di Tumapel, selain mempunyai istri Ken Dedes, Ken Arok juga mempunyai Selir. Dari istri Ken Dedes lahirlah tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan diantaranya Mahesa Wongeteleng.

Sementara dari istri selir yang bernama Ken Umang lahirlah empat anak laki-laki dan satu perempuan, anak tertuanya bernama Tohjaya. Dibawah kepemimpinan Ken Arok, Tumapel berhasil memperluas wilayahnya dengan menaklukkan daerah-daerah sekitarnya.

Tindakan ini, walaupun terkesan membangkang, tetapi raja Kertajaya seakan yakin kepada Ken Arok bahwa penaklukan didaerah sekitar Tumapel tidak membahayakan Kerajaan Kediri. Disisi lain kepemimpinan Raja Kertajayadi Kadiri mulai melemah.

Hal ini disebabkan karena Raja Kertajaya Semakin lama semakin sombong, gemar memamerkan kekuatan ghaibnya dan mengancam kaum brahmana yang tidak suka dengan tingkah polahnya.

Bahkan ia juga mengatakan tidak ada satu pun yang sanggup mengalahkannya karena ia mewarisi kekuatan Dewa Siwa.

Ken Arok sangat cerdik memanfaatkan keadaan ini, ia menampung sebanyak-banyaknya kaum brahmana yang melarikan diri dari Kadiri dan mereka meminta perlindungan darinya.

Raja Kertajaya marah besar mengetahui hal itu, ia mengirimkan pesan kepada Ken Arok agar tidak bersikap melindungi kaum brahmana. Pesan itu diacuhkan begitu saja oleh Ken Arok. Akhirnya, terjadilah pertentangan antara Raja Kertajaya dengan Ken Arok.

Baca Juga : Kronologi Perang Diponegoro

Baca Juga : Sebab Terjadinya Perang Padri

Kaum brahmana merasa senang dengan sambutan dan sikap Ken Arok di Tumapel. Mereka kemudian menghendaki agar Ken Arok  menjadi Raja.

Akhirnya, Ken Arok diangkat sebagai raja  dengan gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi dengan kerajaan yang bernama Singasari pada tahun 1222 M.

Raja – Raja Kerajaan Singasari

Adapun para raja yang memrintah Kerajaan Singasari, menurut sebagai berikut :

  1. Ken Arok alias Rajasa Sang Amurwabhumi

Setelah berhasil membunuh Adipati Tunggul Ametung kemudian Ken Arok mendirikan sebuah kerajaan yang berada di Daerah Tumapel dan diberi nama Kerajaan Singasari.

Ia sangat piawai dalam memainkan politik. Bahkan bisa jadi kepiawaiannya dalam memainkan politik ini lebih tinggi dibandingkan kepiawaiannya dalam memainkan ilmu kesaktian atau ilmu kanuragan.

  1. Anusapati

Anusapati merasa heran terhadap sikap Ken Arok yang seolah-olah menganaktirikan dirinya. Padahal ia merasa sebagai putra tertua. Karena itu, ia mendesak ibunya untuk menceritakan sebenarnya tentang status sebagai putra raja.

Kemudian Ken Dedes terpaksa mengatakan yang sebenarnya bahwa Anusapati adalah tiri Ken Arok. Sedangkan, ayahnya bernama Tunggul Ametung yang dibunuh oleh Ken Arok dengan cara ditusuk keris yang dibuat oleh Mpu Gandring.

Setelah itu dia menyuruh pembantunya untuk memubunuh Ken Arok dengan keris yang sama dan kemudian Ken Arok meninggal yang dalam kitab Pararaton ditulis tahun 1169 Saka atau  1247 M.

Sepeninggal Rajasa Sang Amurwabhumi, Anusapati sebagai raja. Pada kepemimpinan Anusapati Kerajaan Singasari tidak banyak mendapatkan pembaharuan-pembaharuan yang signifikan, ini semua di karenakan ia terlalu larut dengan hobinya yang menyabung ayam sehingga lupa dengan kepemimpinannya di kerajaan.

Pada suatu hari, Panji Tohjaya membawa ayam sabungnya menghadap Anusapati. Katanya:”Kakanda, bolehkah saya meminjam keris Gandring sebentar?” tanpa curiga Anusapati mengulurkan krisnya.

Tohjaya berkata lagi:”Kakanda, mari kita bersabung ayam! Tanpa curiga pula, ajakan itu disambut dengan baik. Setelah mereka menaji ayamnya masing-masing, ayam dilepaskan untuk bersabung.

Anusapati mencurahkan perhatiannya kepada ayam yang sedang bertarung tanpa menaruh perhatian sedikitpun kepada gerak-gerik Panji Tohjaya.

Ia segera menghunus kerisnya dan menikam Anusapati sampai mati. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1171 Saka atau 1249 M. Demikian Kitab Pararaton.

Baca Juga : Peninggalan Sejarah Kerajaan Kutai

  1. Tohjaya

Setelah Anusapati mati terbunuh Panji Tohjaya naik tahta, tetapi hidupnya diliputi ketakutan dan curiga, terutama kepada Ranggawuni putra Anusapati dan Mahisa Cempaka putra dari Mahisa Wungu Teleng. Mereka berdua datang menghadiri penobatan Panji Tohjaya.

Melihat mereka itu, Panji Tohjaya berbisik kepada Pranaraja:”He para mantri dan Pranaraja, lihatlah kedua kemenakanku itu.

Alangkah bagusnya rupa dan perawakan mereka! Melebihi musuh-musuhku di Nusantara. Untuk apa mereka itu datang ke mari?” Jawab Pranaraja:”Memang mereka itu sangat bagus dan gagah berani. Namun, mereka itu dapat diumpamakan bisul dipusat.

Jika pecah pasti membahayakan.” Kemudian ia memanggil Lembu Ampal dan berbisik di telinganya, jika engkau tidak berhasil menyirnakan mereka itu, engkau sendiri kusirnakan!”.

Namun Lembu Ampal menyadari bahwa yang seharusnya berhak atas tahta raja adalah Ranggawuni sehingga ia berbalik membela Ranggawuni dan Mahisa Cempaka

Dari situ mereka mulai bergerak serentak menyerbu istana. Panji Tohjaya terkejutmendadak melihat serangan musuh dan berusaha melarika diri. Namun, ia terkena tusukan tombak dan tidak dapat berjalan.

Setelah keributan agak reda, ia dicari oleh pengikut-pengikutnya dan diungsikan di Katang Lumbang. Sampai di Katang Lumbang ia meninggal. Pararaton mencatat wafat Panji Tohjaya pada tahun 1172 Saka atau 1250 M.

  1. Rangga Wuni alias Wisnuwardhana

Pararaton menjelaskan persekutuan antara Rangga Wuni dan Mahisa Cempaka sebagai dua ular dalam satu liang.

Sepeninggal Panji Tohjaya mereka tetap sia dan sekata. Kemudian Rangga Wuni diangkat sebagai raja dan mengambilnama Abhiseka Wisnuwardhana sedangkan Mahisa Cempaka menjadi ratu Angrabhaya ( pembantu utama sang prabu ) bergelar Bhatara Narasingamurti.

Baca Juga : Bukti Sejarah Peninggalan Kerajaan Kutai

Pada pemerintahan Wisnuwardhana Daerah Kutaraja bertambah hari bertambah baik dan kemudian berganti nama menjadi Singasari pada tahun 1176 Saka atau 1254 M. Demi memajukan kemakmuran negara, Wisnuwardhana membuat pelabuhan di Sungai Brantas dekat Kota Mojokerto.

  1. Kertanagara

Nagarakretagama pupuh 61/2 menguraikan bahwa pada tahun 1254 Raja Wisnuwardhana menobatkan putranya.

Segenap rakyat Janggala dan Panjalu datang ke Tumapel untuk menghadiri upacara penobatan itu. Setelah dinobatkan putra mahkota mengambil nama Abhiseka Sri Kertanagara. Ibu kota Kutaraja berganti nama menjadi Singasari.

Ditangan kertanagara inilah Singasari mengalami kemajuan yang pesat. Usahanya untuk menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di sekelilingnya, lalu mempersatukannya tercatat bahwa wilayah kekuasaan Kerajaan Singasari saat itu tidak hanya mencakup Pulau Jawa, tetapi sudah meluas ke luar Pulau Jawa.

Selain memperluas wilayah kekuasaan, Kertanagara juga mengadakan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan di pantai tenggara Asia, seperti Kerajaan Khmer.

Tujuan dari persahabatan ini tak lain adalah untuk menggalang kekuatan besar guna menghadapi serangan Kubilai Khan dari Tiongkok yang sedang melakukan ekspansi ke wilayah Jawa dan sekitarnya.

Dalam kitab Pararaton diberitakan bahwa Kertanagara adalah salah satunya Raja Singasari yang naik tahta secara langsung tanpa perebutan tahta oleh keturunan raja pada saat itu.

Kertanagara merupakan sosok Raja Singasari pertama yang berhasrat memperluas wilayah yang mencakup Nusantara dan Selat Malaka. Namun, sebelum keinginannya terealisasi, ia sudah terbunuh dalam pemberontakan yang dilakukan oleh Jayakatwang dari Kadiri pada 1292 M.

Keadaan Masyarakat Pada Masa Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari pernah mengalami pasang surut atau maju mundur dalam pemerintahannya. Hal terebut sangat berpengaruh terhadap keadaan sosial, ekonomi dan budayanya.

  1. Kehidupan Sosial Singasari

Di awal-awal Ken Arok menjadi Raja Singasari, ia berusaha meningkatkan kehidupan sosial rakyatnya dengan cara memberikan perhatian yang lebih.

Sehingga pada waktu itu banyak rakyat yang rela mati dalam penyerangan ke Kerajaan Kadiri dan mempertahankan berdirinya Kerajaan Singasari.

  1. Kehidupan Ekonomi Singasari

Mengenai kehidupan ekonomi Singasari, tidak begitu jelas dberitakan dalam berbagai kitab dan prasasti. Akan tetapi, mengingat kerajaan tersebut terletak di tepi Sungai Brantas, kemungkinan kehidupan ekonminya disandarkan pada bidang perdagangan dan pelayaran.

Selain itu, Kerajaan Singasari merupakan kerajaan yang memiliki tanahyang subur, maka kehidupannya juga bergantung pada sektor pertanian.

  1. Kehidupan Budaya/Kesenian Singasari

Gambaran kehidupan budaya atau kesenian singasari dapat dilihat dari ditemukannya situs-situs berupa candi-candi Pemandian, Watu Gede dan lain sebagainya.

Selain itu kebudayaan/keseniannya juga dapat dilihat dari ditemukannya patung-patung yang menggamarkan penguasa kerajaan.

Baca Juga : Sejarah Masyarakat Indonesia Pra Aksara

Masa Kejayaan dan Jatuhnya Kerajaan Singasari

Masa Kejayaan Kerajaan Singasari

Kejayaan Kerajaan Singasari tidak dapat dipisahkan dari Kertanagara yaitu raja terakhir dari Kerajaan Singasari.

Ia adalah satu-satunya raja Singasari yang dipilih secara langsung oleh bapaknya yaitu Raja Wisnuwardhana dan juga satu-satunya raja yang berpengaruh dalam perluasaan wilayah Kerajaan Singasari. Salah satu cara mempersatukannya sebagai berikut:

  1. Melakukan Kebijakan Politik Dalam Negeri

  • Mengganti Pejabat Kerajaan

Langkah ini bertujuan menggalang pemerintahan yang mendukung keputusan raja. Dalam hal ini Kertanagara memecat Mahapatih Raganata dan menggantinyadengan Kebo Tengah Apanji Aragani.

Raganata dipecat karena tidak menyetujui keinginan perluasan wilayah oleh Kertanagara dengan alasan penumpasan pemerontak dan keamanan dalam negeri harus lebih diutamakan.

  • Memelihara Keamanan Politik dan Melakukan Politik Perkawinan

Langkah ini bertujuan menciptakan kerukunan dengan kerajaan bawahan dan menstabilkan situasi politik. Dengan cara mengangkat Jayakatwang sebagai wakil Raja Kadiri dan mengawinkan adiknya yang bernama Turukbali kepada Jayakatwang.

  • Mengatur Susunan Pemerintahan yang Sistematis

Langkah ini bertujuan memperkuat didalam negeri, dalam hal ini Kertanagara menetapkan keputusan-keputusan.

Pertama, Pemerintahan tertinggi dipegang oleh seorang raja sebagai penguasa tunggal. Kedua, kedudukan setelah raja ditempati oleh Dewan Penasihat Raja yang terdiri atas Rakryan I Hino, Rakryan I Halu dan Rakryan I Sirikan.

Ketiga, kedudukan terakhir ditempati oleh pejabat tinggi kerajaan yang terdiri atas Rakryan Mahapatih, Rakryan Demang dan Rakryan Kanuruhan.

  1. Melakukan Kebijakan Politik Luar Negeri

  • Mengirim Ekspedisi Nusantara

Langkah ini bertujuan menggalang persatuan Nusantara dibawah bendera Kerajaan Singasari. Untuk merealisasikan langkah ini Kertanagara mengirimkan prajurit Singasari ke kerajaan-kerajaan di Sumatera.

Prajurit ini dikirimkan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sumatera sehingga dapat memperkuat pengaruh Singasari di Selat Malaka

  • Menggalang

    Kerja Sama dengan Kerajaan-Kerajaan Lain

Langkah ini bertujuan untuk memperkuat bidang ekonomi dari Kerajaan Singasari. Kertanagara pertama-tama merangkul kerajaan-kerajaan di Pantai Tenggara Asia dan Tiongkok Selatan. Kemudian merangkul Kerajaan Campa dari Vietnam dan menikahkan adiknya yang bernama Tapasi dengan Raja Campa yaitu Raja Jaya Simihawamana III.

Baca Juga : Organisasi Bentukan Jepang dan Kebijakan Pemerintah

Runtuhnya Kerajaan Singasari

Ketika Singasari gencar melakukan Ekspedisi prajurit ke wilayah Nusantara, Kerajaan Kadiri yang dahulu pernah diserbu habis-habisan oleh Ken Arok kini mulai bangkit kembali.

Para ketururan dari Kertajaya yang masih hidup yangg mulanya mengabdi kepada Singasari diam-diam mendirikan kembali Kadiri tanpa sepengetahuan Kertanagara.

Saat Kadiri dipimpin oleh Jayakatwang, keberadaannya mulai diperhitungkan dan secara perlahan menjadi besar. Kemudian Jayakatwang menyusun kekuatan besar guna mengalahkan Singasari.

Ia yang sudah berambisi untuk menyerang dan menjatuhkan Singasari kemudian meminta nasihat Arya Wiraraya. Jayakatwang pun mendapatkan nasihatuntuk menyerang Singasari dari arah utara.

Penyerarangan itu dilakukan pada 1214 Saka atau 1292 M, saat perang berlangsung Raden Wijaya beserta panglima perang diperintahkan Kertanagara untuk menahan prajurit Kadiri dari arah utara. Namun, usaha itu sia-sia karena prajurit Kadiri datang dengan jumlah yang besar.

Kemudian Ardharaja yang semula ikut mempertahankan Singasari berubah haluan untuk membela Kadiri setelah melihat kekuatan prajurit Singasari tidak bisa mengimbangi kekuatan prajurit Kadiri.

Akhirnya, Singasari terpukul mundul sampai ke dalam istana karena banyak prajurit yang mati.

Baca Juga : Ruang Lingkup Sejarah : Kisah, Seni, Ilmu dan Peristiwa

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Singasari

  1. Candi Singasari

Candi Singasari ada di sebuah desa yang bernama Desa Candi Renggi, Kecamatan Singasasari, Kabupaten Malang yang juga dikenal dengan nama Candi Menara dan Candi Cungkup yang mengartikan Candi tertinggi pada masanya.

Menurut sejarah, candi ini dibangun pada tahun 1300 M sebagai cara untuk menghormati Raja Kertanegara.

  1. Candi Jago

Menurut Kitab Nagarakretagama dan Pararaton nama candi ini sebenarnya Jajaghu. Candi Jajaghu ini dibuat atas perintah Raja Kertanegara untuk menghormati Raja Singasari yang ke IV yaitu Sri Jaya Wisnuwardhana.

Lokasi candi tersebut berada di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

  1. Candi Sumber Awan

Candi Sumber Awan merupakan peninggalan yang beraal dari abad 14 atau awal abad 15. Dalam kita Nagarkretagama Candi Sumber Awan di definisikan sebegai Kasurangganan atau Taman Surga Nimfa.

Diperkirakan dahulu candi ini didirikan untuk pemujaan. Suasana yang teduh dan tenang di  sekitar candi menjadikan tempat ini cocok untuk melakukan meditasi.

  1. Arca Dwarapala

Arca ini berbentuk monster yang sangat besar, menurut situs Arca Dwarapala merupakan pertanda masuk wilayahkota raja dan penjaga pintu dari sebuah kerajaan.

  1. Prasasti Mula

    Malurung

Praasti Mula Malurung adalah piagam pengesahan penganugerahan Desa Mula dan Desa Malurung untuk tokoh bernama Pranaraja.

Prasasti ini berupa lempengan-lempengan tembaga yang diterbitkan Kartanegara pada tahun 1255 atas perintah ayahnya Wisnuwardana Raja Singasari.

  1. Prasasti Singasari

Prasasti Singasari yang bertarikh 1315 M ditemukan di singasari, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan sekarang disimpan di Museum Gajah dan ditulis dengan Aksara Jawa.

Prasasti ini mengenang pembangunan caitya dan candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada

  1. Candi Jawi

Candi ini terletak di pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan, Kecamatan Prigen dan Kecamatan Pringebukan.

Candi Jawi banya dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Budha, namun sebenarnya merupakan tempat pendharmaan atau penyimpanan abu dari raja terahir Singasari yaitu Kertanegara.

  1. Prasasti Wurare

Sebuah prasasti yang isinya mempeingati penobatan Arca Mahaksobhya di sebuah tempat bernama Wurare. Prasasti ini ditulis dengan bahasa Sansekerta dan bertarikh 1289 M.

Prasasti tersebut sebagai penghormatan dan perlambang bagi Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari yang dianggap oleh keturunannya telah menapai derajat Jina ( Budha Agung ).

  1. Candi Kidal

Candi Kidal adalah salah satu candi warisan dari Kerajaan Singasari. Candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Anusapati, raja kedua dari Singasari yang memerintah selama 20 tahun.

Kematian Raja Anusapati dibunuh oleh Panji Tohjaya sebagaibagian dari perebutan kekuasaan Singasari juga diyakini sebagai kutukan Mpu Gandring.

Demikian pembahasan dari kami tentang Masa Kejayaan Hingga Runtuhnya Kerjaan Singosari secara lengkap dan jelas, semoga bermanfaat jangan lupa di share sobat guruips.co.id