Awal Mula Terbentuknya Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya (disebut juga Srivijaya; dalam bahasa Thailan: ศรีวิชัย atau “Ṣ̄rī wichạy”) merupakan kemaharajaan laut yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak memberi efek di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti “bercahaya” atau “gemilang”, dan wijaya berarti “kemenangan” atau “kejayaan”, maka nama Sriwijaya bermakna “kemenangan yang gilang-gemilang”.

Awal Mula Terbentuknya Kerajaan Sriwijaya

Dalam bahasa Sanskerta kata “Sriwijaya” mengandung dua suku kata: “sri” berati cahaya; “wijaya” berarti kemenangan. Dan memang, Sriwijaya adalah satu dari kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.

Kerajaan sriwijaya muncul pada abad ke-6 yang pada mulanya berpusat di sekitar sungai Batanghari, pantai timur Sumatera. Dalam perkembangannya, kerajaan Sriwijaya meluas hingga meliputi wilayah Kerajaan Melayu, Semenanjung Malaya, dan Sunda.

Catatan mengenai kerajaan ini diperoleh dari seorang pendeta Budha bernama I-Tsing yang pernah tinggal di Sriwijaya antara tahun 685-689 M.

Awal Mula Terbentuknya Kerajaan Sriwijaya
Awal Mula Terbentuknya Kerajaan Sriwijaya

Ketika I-Tsing kembali lagi ke Sriwijaya pada tahun 692, Kerajaan Melayu sudah dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya, sehingga dapat disimpulkan bahwa Sriwijaya telah menaklukan sekaligus menguasai Kerajaan Melayu

Keterangan lain mengenai Sriwijaya tidak hanya didapat dari I-Tsing, melainkan juga dari beberapa prasati yang ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa Melayu Kuno.

Salah satu prasasti itu menyebutkan beberapa nama raja yang pernah memimpin di kerajaan Sriwijaya, diantaranya Raja Dapunta Hyang, Raja Balaputradewa, dan Raja Sri Sanggrama Wijayatunggawarman.

Namun prasasti tersebut tidak menceritakan gambaran hubungan antara raja satu dan raja yang lainnya. Dari prasasti kedukan bukit, dapat diketahui bahwa Raja Dapunta Hyang berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan menaklukkan daerah Minangtamwan, Jambi yang sebelumnya merupakan daerah Kerajaan Melayu.

Daerah tersebut merupakan daerah pertama yang ditaklukkan kerajaan Sriwijaya.Dari situ Sriwijaya memulai perannya sebagai kerajaa maritime dan perdagangan yang kuat dan berpengaruh di Selat Malaka.

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Kemaharajaan Sriwijaya bercirikan kerajaan maritim, mengandalkan hegemoni pada kekuatan armada lautnya dalam menguasai alur pelayaran, jalur perdagangan, menguasai dan membangun beberapa kawasan strategis sebagai pangkalan armadanya dalam mengawasi, melindungi kapal-kapal dagang, memungut cukai serta untuk menjaga wilayah kedaulatan dan kekuasaanya.

Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi, pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, antara lain:Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaya, Thailand,Kamboja, Vietnam, dan Filipina.

Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Sriwijaya mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, dan India.

Sriwijaya juga disebut berperan dalam menghancurkankerajaan Medang di Jawa, dalam prasasti Pucangandisebutkan sebuah peristiwa Mahapralaya yaitu peristiwa hancurnya istana Medang di Jawa Timur, di mana Haji Wurawari dari Lwaramyang kemungkinan merupakan raja bawahan Sriwijaya, pada tahun 1006 atau 1016 menyerang dan menyebabkan terbunuhnya raja Medang terakhir Dharmawangsa Teguh.

Para Maharaja Sriwijaya

TahunNama RajaIbukotaPrasasti, catatan pengiriman utusan ke Tiongkok serta peristiwa
671Dapunta Hyang atau

Sri Jayanasa

Srivijaya

Shih-li-fo-shih

Catatan perjalanan I Tsing di tahun 671-685, Penaklukan Malayu, penaklukan Jawa

Prasasti Kedukan Bukit(683), Talang Tuo (684),Kota Kapur (686), Karang Brahi dan Palas Pasemah

702Sri Indrawarman

Shih-li-t-‘o-pa-mo

Sriwijaya

Shih-li-fo-shih

Utusan ke Tiongkok 702-716, 724

Utusan ke Khalifah Muawiyah I dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz

728Rudra Vikraman

Lieou-t’eng-wei-kong

Sriwijaya

Shih-li-fo-shih

Utusan ke Tiongkok 728-742
743-774Belum ada berita pada periode ini
775Sri MaharajaSriwijayaPrasasti Ligor B tahun 775 di Nakhon Si Thammarat, selatanThailand dan menaklukkan Kamboja
Pindah ke Jawa (Jawa Tengahatau Yogyakarta)Wangsa Sailendramengantikan Wangsa Sanjaya
778Dharanindra atau

Rakai Panangkaran

JawaPrasasti Kelurak 782 di sebelah utara kompleksCandi Prambanan

Prasasti Kalasan tahun 778 di Candi Kalasan

782Samaragrawira atau

Rakai Warak

JawaPrasasti Nalanda danprasasti Mantyasih tahun 907
792Samaratungga atau

Rakai Garung

JawaPrasasti Karang Tengahtahun 824,

825 menyelesaikan pembangunan candiBorobudur

840Kebangkitan Wangsa Sanjaya, Rakai Pikatan
856BalaputradewaSuwarnadwipaKehilangan kekuasaan di Jawa, dan kembali ke Suwarnadwipa

Prasasti Nalanda tahun 860, India

861-959Belum ada berita pada periode ini
960Sri Udayaditya Warmadewa

Se-li-hou-ta-hia-li-tan

Sriwijaya

San-fo-ts’i

Utusan ke Tiongkok 960, & 962
980Utusan ke Tiongkok 980 & 983: dengan raja, Hie-tche (Haji)
988Sri Cudamani Warmadewa

Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa

Sriwijaya

Malayagiri (Suwarnadwipa) San-fo-ts’i

990 Jawa menyerang Sriwijaya, Catatan Atiśa,

Utusan ke Tiongkok 988-992-1003,

pembangunan candi untukkaisar Cina yang diberi nama

cheng tien wan shou

1008Sri Mara-Vijayottunggawarman

Se-li-ma-la-pi

San-fo-ts’i

Kataha

Prasasti Leiden & utusan ke Tiongkok 1008
1017Utusan San-fo-ts’i ke Tiongkok 1017: dengan raja, Ha-ch’i-su-wa-ch’a-p’u
(Haji Sumatrabhumi (?)); gelar haji biasanya untukraja bawahan
1025Sangrama-VijayottunggawarmanSriwijaya

Kadaram

Diserang oleh Rajendra Chola I dan menjadi tawanan

Prasasti Tanjore bertarikh 1030 pada candi Rajaraja, Tanjore, India

1030Dibawah Dinasti Choladari Koromandel
1079Utusan San-fo-ts’i dengan raja Kulothunga Chola I(Ti-hua-ka-lo) ke Tiongkok 1079 membantu memperbaiki candi Tien Ching di Kuang Cho (dekat Kanton)
1082Utusan San-fo-ts’i dariKien-pi (Jambi) ke Tiongkok 1082 dan 1088
1089-1177Belum ada berita
1178Laporan Chou-Ju-Kuadalam buku Chu-fan-chiberisi daftar koloni San-fo-ts’i
1183Srimat Trailokyaraja Maulibhusana WarmadewaDharmasrayaDibawah Dinasti Mauli,Kerajaan Melayu, Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand

Kehidupan sosial Kerajaan Sriwijaya

Kehidupan masyarakat Kerajaan Sriwijaya meningkat dengan pesat terutama dalam bidang pendidikan dan hasilnya Sriwijaya terbukti menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara.

Hal ini sesuai dengan berita I-Tshing pada abad ke 8 bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang belajar agama Budha di bawah bimbingan pendeta Budha terkenal yaitu Sakyakirti.

Di samping itu juga pemuda-pemuda Sriwijaya juga mempelajari agama Budha dan ilmu lainnya di India, hal ini tertera dalam prasasti Nalanda.

Kerajaan Sriwijaya yang letaknya  strategis dalam lalu lintas perdagangan internasional juga menyebabkan masyarakatnya lebih terbuka dalam menerima berbagai pengaruh asing.Namun masyarakatnya bersifat sangat majemuk.

Yang dimaksud majemuk suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembaruan satu sama lain di dalam suatu kesatuan politik.

Masyarakat Sriwijaya juga telah mampu mengembangkan bahasa komunikasi dalam dunia perdagangannya. Kemungkinan bahasa Melayu Kuno telah digunakan sebagai bahasa pengantar terutama dengan para pedagang dari Jawa Barat, Bangka, Jambi dan Semenanjung Malaysia.

Penduduk Sriwijaya bersifat terbuka dalam menerima berbagai kebudayaan yang datang. Salah satunya adalah mengadopsi kebudayaan India, seperti nama-nama India, adat-istiadat, serta tradisi dalam Agama Hindu.

Oleh karena itu, Sriwijaya pernah menjadi pusat pengembangan ajaran Buddha di Asia Tenggara.Selain itu , masyarakat sriwijaya telah mengenal stratifikasi social dalam masyarakat yang merupakan perbedaan penduduk / masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hirarkis).

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sriwijaya

Dilihat dari letak geografis, daerah Kerajaan Sriwijaya mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu di tengah-tengah jalur pelayaran perdagangan antara India dan Cina Sehingga aktivitas perekonomian masyarakatnya tergantung pada pelayaran dan perdagangan.

Di samping itu, letak Kerajaan Sriwijaya dekat dengan Selat Malaka yang merupakan urat nadi perhubungan bagi daerah-daerah di Asia Tenggara.. Dengan demikian kedudukan Sriwijaya dalam perdagangan internasional sangat baik.

Hal ini juga didukung oleh pemerintahan raja yang cakap dan bijaksana seperti Balaputradewa. Pada masanya Sriwijaya memiliki armada laut yang kuat yang mampu menjamin keamanan di jalur-jalur pelayaran yang menuju Sriwijaya, sehingga banyak pedagang dari luar yang singgah dan berdagang di wilayah kekuasaan Sriwijaya tersebut.

Kerajaan Sriwijaya  mampu menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional selama berabad-abad dengan menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa.

Setiap pelayaran dan perdagangan dari Asia Barat ke Asia Timur atau sebaliknya harus melewati wilayah Kerajaan Sriwijaya yang meliputi seluruh Sumatra, sebagian Jawa, Semenanjung Malaysia, dan Muangthai Selatan.

Keadaan ini juga yang membawa penghasilan Kerajaan Sriwijaya terutama diperoleh dari komoditas ekspor dan bea cukai bagi kapal kapal yang singgah di pelabuhan-pelabuhan milik Sriwijaya.

Komoditas ekspor Sriwijaya antara lain kapur barus, cendana, gading gajah, buah-buahan, kapas, cula badak, dan wangi-wangian.  Kerajaan ini merupakan kerajaan maritime yang bersifat metropolitan.

Budaya Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan berbagai sumber sejarah, sebuah masyarakat yang kompleks dan kosmopolitan yang sangat dipengaruhi alam pikiran Budha Wajrayana digambarkan bersemi di ibu kota Sriwijaya.

Beberapa prasasti Siddhayatra abad ke-7 seperti Prasasti Talang Tuo menggambarkan ritual Budha untuk memberkati peristiwa penuh berkah yaitu peresmian taman Sriksetra, anugerah Maharaja Sriwijaya untuk rakyatnya.

Prasasti Telaga Batu menggambarkan kerumitan dan tingkatan jabatan pejabat kerajaan, sementara Prasasti Kota Kapur menyebutkan keperkasaan balatentara Sriwijaya atas Jawa. Semua prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno, leluhur bahasa Melayu dan bahasa Indonesia modern.

Sejak abad ke-7, bahasa Melayu kuno telah digunakan di Nusantara. Ditandai dengan ditemukannya berbagai prasasti Sriwijaya dan beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuno di tempat lain, seperti yang ditemukan di pulau Jawa.

Hubungan dagang yang dilakukan berbagai suku bangsa Nusantara menjadi wahana penyebaran bahasa Melayu, karena bahasa ini menjadi alat komunikasi bagi kaum pedagang. Sejak saat itu, bahasa Melayu menjadi lingua franca dan digunakan secara meluas oleh banyak penutur di Kepulauan Nusantara.

Meskipun disebut memiliki kekuatan ekonomi dan keperkasaan militer, Sriwijaya hanya meninggalkan sedikit tinggalan purbakala di jantung negerinya di Sumatera.

Sangat berbeda dengan episode Sriwijaya di Jawa Tengah saat kepemimpinan wangsa Syailendra yang banyak membangun monumen besar; seperti Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Borobudur.

Candi-candi Budha yang berasal dari masa Sriwijaya di Sumatera antara lain Candi Muaro Jambi, Candi Muara Takus, dan Biaro Bahal. Akan tetapi tidak seperti candi periode Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit, candi di Sumatera terbuat dari bata merah.

Beberapa arca-arca bersifat Budhisme, seperti berbagai arca Budha yang ditemukan di Bukit Seguntang, Palembang, dan arca-arca Bodhisatwa Awalokiteswara dari Jambi, Bidor, Perak dan Chaiya, dan arca Maitreya dari Komering, Sumatera Selatan.

Semua arca-arca ini menampilkan keanggunan dan langgam yang sama yang disebut “Seni Sriwijaya” atau “Langgam/Gaya Sriwijaya” yang memperlihatkan kemiripan — mungkin diilhami — oleh langgam Amarawati India dan langgam Syailendra Jawa (sekitar abad ke-8 sampai ke-9).

Struktur pemerintahan kerajaan Sriwijaya

Pembentukan satu negara kesatuan dalam dimensi struktur otoritas politik Sriwijaya, dapat dilacak dari beberapa prasasti yang mengandung informasi penting tentang kadātuan,vanua, samaryyāda, mandala dan bhūmi.

Kadātuan dapat bermakna kawasan dātu, (tnah rumah) tempat tinggal bini hāji, tempat disimpan mas dan hasil cukai (drawy) sebagai kawasan yang mesti dijaga.

Kadātuan ini dikelilingi oleh vanua, yang dapat dianggap sebagai kawasan kota dari Sriwijaya yang didalamnya terdapat vihara untuk tempat beribadah bagi masyarakatnya. Kadātuan danvanua ini merupakan satu kawasan inti bagi Sriwijaya itu sendiri.

Menurut Casparis,samaryyāda merupakan kawasan yang berbatasan dengan vanua, yang terhubung dengan jalan khusus (samaryyāda-patha) yang dapat bermaksud kawasan pedalaman.

Sedangkan mandala merupakan suatu kawasan otonom dari bhūmi yang berada dalam pengaruh kekuasaan kadātuan Sriwijaya.

Penguasa Sriwijaya disebut dengan Dapunta Hyang atau Maharaja, dan dalam lingkaran raja terdapat secara berurutan yuvarāja (putra mahkota), pratiyuvarāja (putra mahkota kedua) dan rājakumāra (pewaris berikutnya).

Prasasti Telaga Batu banyak menyebutkan berbagai jabatan dalam struktur pemerintahan kerajaan pada masa Sriwijaya.

Masa kemunduran kerajaan Sriwijaya

Raja Kerajaan Sriwijaya yang terakhir adalah Sri Sanggrama Wijayatunggawarman. Pada masa pemerintahan Sri Sanggrama Wijaya tunggawarman, hubungan kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Chola dari india yang semula sangat erat mulai renggang, hal ini disebabkan oleh serangan yang dilancarkan Kerajaan Chola dibawah pimpinan Rajendracoladewa atas wilayah Sriwijaya di Semenanjung Malaya.

Serangan yang berlangsung pada tahun 1017, 1025, dan 1068 ini mengakibatkan kemunduran kerajaan sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya akhirnya runtuh setelah kerajaan Chola berhasil menyandera Raja Sri Sanggrama Wijayatunggawarman. Setelah itu Kerajaan Chola mengambil alih pengaruh perdagangan dan politik.

Peninggalan kerajaan Sriwijaya

  1. Prasasti

  • Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti berangka tahun 683 M itu menyebutkan bahwa raja Sriwijaya bernama Dapunta Hyang yang membawa tentara sebanyak 20.000 orang berhasil menundukan Minangatamwan. Dengan kemenangan itu, Kerajaan Sriwijaya menjadi makmur.

Daerah yang dimaksud Minangatamwan itu kemungkinan adalah daerah Binaga yang terletak di Jambi. Daerah itu sangat strategis untuk perdagangan.

  • Prasasti Telaga Batu

Prasasti itu menyebutkan tentang kutukan raja terhadap siapa saja yang tidak taat terhadap Raja Sriwijaya dan juga melakukan tindakan kejahatan.

  • Prasasti Talang Tuo

Prasasti berangka tahun 684 M itu menyebutkan tentang pembuatan Taman Srikesetra atas perintah Raja Dapunta Hyang.

  • Prasasti Kota Kapur

Prasasti berangka tahun 686 M itu menyebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya berusaha untuk menaklukan Bumi Jawa yang tidak setia kepada Kerajaan Sriwijaya. Prasasti tersebut ditemukan di Pulau Bangka.

  • Prasasti Karang Berahi

Prasasti berangka tahun 686 M itu ditemukan di daerah pedalaman Jambi, yang menunjukan penguasaan Sriwijaya atas daerah itu.

  • Prasasti Ligor

Prasasti berangka tahun 775 M itu menyebutkan tentang ibu kota Ligor dengan tujuan untuk mengawasi pelayaran perdagangan di Selat Malaka.

  • Prasasti Nalanda

Prasasti itu menyebutkan Raja Balaputra Dewa sebagai Raja terakhir dari Dinasti Syailendra yang terusir dari Jawa Tengah akibat kekalahannya melawan Kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya.

Dalam prasasti itu, Balaputra Dewa meminta kepada Raja Nalanda agar mengakui haknya atas Kerajaan Syailendra.

Di samping itu, prasasti ini juga menyebutkan bahwa Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5 buah desa dari pajak untuk membiayai para mahasiswa Sriwijaya yang belajar di Nalanda.

  1. Arca atau Patung

Ditemukannya arca Buddha di Bukit Siguntang (sebelah barat Palembang).

  1. Candi

Ditemukannya candi Muara Takus sebagai peninggalan dari kerajaan Sriwijaya.

Demikian pembahasan dari kami tentang Awal Mula Terbentuknya Kerajaan Sriwijaya Hingga Peninggalan secara lengkap dan jelas, semoga bermanfaat sobat guruips.co.id