Faktor Pendorong, Penghambat dan Penyebab Perubahan Sosial Budaya

Hallo sobat GuruIps.co.id, kali ini kita berjumpa kembali dengan kami yang akan membahas tentang materi Perubahan Sosial Budaya : Faktor, Pendorong & Penghambat secara lengkap dan jelas, untuk lebih jelasnya mari simak artikel kami di bawah ini, semoga bermanfaat, terima kasih

Faktor Penghambat Perubahan Sosial Budaya
Faktor Penghambat Perubahan Sosial Budaya

Perubahan Sosial Budaya

Setiap perubahan sosial budaya selalu mencakup tiga gagasan :

  1. Adanya perbedaan.
  2. Perbedaan itu berkaitan dengan waktu (dulu,sekarang, dan yang akan datang).
  3. Mengenai keadaan masyarakat.

Pengertian Perubahan Sosial-Budaya

Perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada lembaga kemasyarakatan yang kemudian mempengaruhi nilai-nilai, sikap-sikap, pola-pola perilaku antara kelompok-kelompok yang terdapat dalam masyarakat.


Faktor-faktor Penyebab Perubahan

Perubahan yang terjadi dalam masyarakat itu dilakukan secara sadar oleh masyarakat, tetapi juga ada perubahan yang tidak sadari. Perubahan terjadi dengan berbagai alasan. Karena itu harus menyesuaikan dengan faktor-faktor lain yang sudah mengalami perubahan terlebih dahulu. Dari beberapa faktor penyebab terjadinya perubahan itu, berikut beberapa faktor yang menjadi penyebab perubahan :


Faktor Geografis

Faktor ini meliputi lingkungan fisik, lingkungan alam. Faktor fisik seperti letak geografis juga akan mempengaruhi perubahan.
Contoh :

  • Pada daerah yang sukar untuk dijangkau tentu perubahan akan sangat lamban terjadi karena kontak budaya akan terbatas. Itu berarti bahwa perubahan budayaberkaitan dengan lingkungan alam.
  • Banyak bangunan kuno menjadi perubah secara fisik karena fakto temperatur termasuk keadaan cuaca. Bangunan candi misalnya akan cepat ditumbuhi lumut kalau temperaturnya lembab.

Faktor – faktor Teknologis

Faktor ini berkaitan dengana adanya penemuan baru dari masyarakat. Penemuan-penemuan baru yang terjadi dalam masyarakat dapat dalam bentuk 2 macam yaitu discovery (penemuan) dan invention (diterima/diterapkan).

  1. Discovery adalah penemuan baru baik berupa alat (fisik) maupun ide (non fisik). Misalnya mesin penggilingan gabah yang menghasilkan beras.
  2.  Invention adalah kalau masyarakat sudah mengakui, menerima dan menerapkan penemuan baru itu.

Masyarakat menerima proses penggilingan gabah itu sehingga meninggalkan cara lama dengan menumbuk padi. Dulu masyarakat membajak sawah dengan bantuan sapi, tetapi sekarang memakai traktor tangan.

Dengan demikian discovary menjadi invention, walaupun memerlukan waktu yang lama untuk proses adaptasi.


Penduduk

Pertambahan penduduk terlalu cepat seperti di Jawa mengakibatkan terjadinya beberapa perubahan. Seperti :

  • Perubahan pada struktur masyarakat dan lembaga kemasyarakatan
  • Muncul perkampungan baru dengan penduduk yang hiterogin
  • Di kompleks perumahan yang baru, tinggal masyarakat majemuk karena mereka berasal dari berbagai daerah, suku bangsa, agama.

Pemerintah Indonesia mencoba menciptakan pemerataan jumlah penduduk dan kesejahteraan. Karena itu dilakukan pemindahan penduduk melalui transmigrasi. Daerah yang penduduknya padat seperti Jawa, Bali dipindahkan ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatra dan Papua. Lambat laun terjadi percampuran nilai-nilai budaya masyarakat pendatang dengan masyarakat asli.


Percampuran itu disebut dengan proses akulturasi kebudayaan. Akultursi kebudayaan adalah fenomena yang timbul jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak.


Kontak dapat berlangsung secara langsung dan terus menerus. Akibatnya timbul perubahan dalampola kebudayaan yang original dari salah satu kelomppk atau ke dua-duanya. Prosesa kulturasi timbul bila suatu kebudayan tertentu dihadapkan dengan unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda.


Faktor – faktor Penghambat Perubahan

Disamping faktor-faktor yang menjadi penyebab perubahan sosial dan budaya, terdapat juga faktor penghambat atau faktor-faktor yang menghalangi terjadinya perubahan. Faktor-faktor itu antara lain:

  1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
  2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lamban
  3. Sikap masyarakat yang masih sangat tradisional
  4. Prasangka negatif terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap tertutup (eksklusif).

Bentuk Perubahan

Perubahan yang terjadi secara cepat dan secara lambat

Jenis perubahan ini bisa direncanakan atau perubahan yang tidak direncanakan.
Contoh :
Akibat sunami di Aceh misalnya, ternyata membawa perubahan masyarakat sangat cepat dari aspek ekonomi dan sosial. Harta benda mereka habis dilanda banjir, sanak keluarga mereka bercerai berai dalam waktu yang sangat singkat. Perubahan yang lambat misalnya, bagaimana lambannya peningkatan daya beli masyarakat. Murahnya upah buruh sehingga berpengaruh terhadap daya beli dan kesejahteraan masyarakat.


Perubahan yang pengaruhnya kecil dan pengaruhnya besar

Kemajuan teknologi komunikasi melalui telepon genggam/hand phone (HP)sudah menjalar sampai ke pelosok pedesaan. Degan adanya alat komunikasi ini terjadi perubahan besar dalam kehidupan


Perubahan yang dikehendaki dan yang tidak dikehendaki

Perubahan dikehendaki atau direncanakan, karena memiliki kepentingan atau dirasa memberikan manfaat dalam kehidupannya. Misalnya pengendalian jumlah penduduk, keikut sertaan masyarakat dalam Keluarga Berencana (KB) untuk mengatur kelahiran.
Sedangkan perubahan yang tidak dikehendaki adalah perubahan yang berkaitan dengan hukum alam. Manusia tidak mampu mengendalikan perubahan itu. Misalnya harus pindah tempat tinggal karena bencana alam.


Tipe Masyarakat Dalam Menyikapi Perubahan

Dilihat dari tempat tinggalnya, kita menemukan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, ada masyarakat primitif dan modern. Dilihat dari profesinya ada kelompok petani, buruh, pegawai pemerintah, pejabat dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut juga mempengaruhi sikapnya terhadap suatu perubahan. Terjadinya perubahan sosial maupun budaya dalam masyarakat njuga sangat tergantung dari bagaimana kontak budaya itu terjadi.

Ada beberapa bentuk kontak budaya yang bermuara pada seberapa besar perubahan itu terjadi. Bentuk-bentuk kontak budaya itu antara lain :

  • Antar bagian-bagian atau seluruh masyarakat
  • Antar golongan yang bersahabat dan golongan yang bermusuhan
  • Masyarakat yang menguasai dengan yang dikuasai
  • Masyarakat sama besar dan berbeda besarnya
  • Aspek budaya non material dengan yang material

Dalam menyikapi perubahan itu juga sangat tergantung apakah perubahan itu memberikan manfaat atau merugikan.


Perubahan yang bermanfaat dan menguntungkan jika:

  1. Masyarakat merasa membutuhkan
  2. Perubahan itu dapat difahami dan dikuasai
  3. Menguntungkan masyarakat
  4. Tidak merusak prestise
  5. Mendorong untuk meningkatkan taraf hidup
  6. Tidak bertentangan dengan tata nilai yang ada dalam masyarakat

Dilain pihak, terdapat kelompok masyarakat lain yang menolak terjadinya perubahan itu. Perubahan itu dianggap merugikan jika:

  • Menggunakan hal yang baru akan mendapat hukuman dari masyarakat
  • Penemuan baik material maupun non material sulit diintegrasikan dalam pola kebudayaan dimana perubahan itu timbul.
  • Menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
  •  Bertentangan dengan tata nilai yang dianut oleh masyarakat

Faktor Pendorong  Perubahan Sosial Budaya

Terjadinya  perubahan  sosial  budaya  tidak  lepas  dari  faktor-faktor pendorong.  Faktor-faktor  pendorong  jalannya  perubahan  sosial  budaya  sebagai berikut :


Kontak dengan Budaya Lain

Awal proses perubahan sosial adalah adanya kontak dari seseorang atau kelompok kepada orang atau kelompok lain. Melalui kontak sosial terjadilah  proses  penyampaian  informasi  tentang  gagasan,  ide, keyakinan, dan hasil-hasil budaya yang berupa fisik. Dua kebudayaan yang  saling  bertemu  akan  saling  mempengaruhi  yang  akhirnya  membawa perubahan.


Dengan demikian, berhubungan dengan budaya lain dapat mendorong munculnya perubahan sosial budaya. Hubungan atau  kontak  dengan  kebudayaan  lain  dapat  dilakukan  secara  difusi,  akulturasi, asimilasi, dan akomodasi.


Sistem Pendidikan Formal yang Maju

Pendidikan  formal  adalah  pendidikan  yang  ditempuh  melalui jenjang-jenjang  pendidikan  di  sekolah.  Pendidikan  formal  mengajarkan  bermacam-macam  kemampuan,  seperti  menguasai  ilmu-ilmu pengetahuan, kerajinan tangan, hidup mandiri, olahraga, dan kesenian. Dengan mengikuti pendidikan di sekolah, seorang individu mempelajari suatu  nilai-nilai  tertentu  yang  dapat  membuka  pikirannya  dalam menerima hal-hal baru.


Selain itu, pendidikan sekolah mengajarkan manusia untuk dapat berpikir secara ilmiah dan objektif. Dengan pengetahuan itu, seorang individu  dapat  menilai  apakah  kebudayaan  masyarakatnya  mampu memenuhi  kebutuhan-kebutuhan  zaman  atau  tidak.  Berbekal  pengetahuan itulah seseorang melakukan perubahan. Oleh karena itu, perubahan sering terjadi di kalangan masyarakat yang berpendidikan tinggi.

Artikel Lainnya : √  Fungsi Uang : Sejarah, Nilai, Jenis, Syarat dan Valuta Asing


Sikap Menghargai Hasil Karya Orang Lain

Adanya sikap menghargai hasil karya mendorong seorang individu memunculkan penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Wujud sikap menghargai hasil karya seseorang dapat berupa pemberian Nobel atau penghargaan. Selain itu, adanya keinginan untuk maju dalam diri seseorang  memicu  munculnya  perubahan-perubahan  sosial  budaya.

Perubahan sosial budaya terjadi karena ada rasa tidak puas terhadap situasi  dan  kondisi  saat  itu.  Oleh  karena  itu,  keinginan  untuk mengadakan  suatu  kemajuan  mendorong  seseorang  melakukan perubahan terhadap situasi dan kondisi yang ada.

Artikel Lainnya : √ Dampak Konflik dan Pergolakan : Pristiwa, Persaingan ideologis 1960


Sistem Terbuka dalam Lapisan-Lapisan Masyarakat

Adanya open  stratification  dalam  masyarakat  memungkinkan terjadinya gerak sosial vertikal. Situasi kondisi ini memberi kesempatan seseorang untuk menempati strata yang lebih tinggi. Melalui kerja keras dan  melakukan  perubahan-perubahan  seorang  individu  mencapai kemajuan  diri  guna  meningkatkan  strata.  Oleh  karena  itu,  semakin terbuka  sistem  lapisan  masyarakat  semakin  besar  peluang  untuk melakukan perubahan-perubahan yang tentunya menuju ke arah yang lebih baik.

Artikel Lainnya : Faktor Penghambat Mobilitas Sosial : Dampak, Bentuk & Saluran


Ketidakpuasan terhadap Bidang-Bidang Kehidupan Tertentu

Adanya  perubahan  dilatarbelakangi  oleh  rasa  ketidakpuasan  terhadap situasi dan kondisi saat itu. Apabila perasaan itu terjadi dalam waktu  yang  lama  akan  menimbulkan  tekanan-tekanan  yang  disertai dengan kekecewaan hingga pada suatu waktu memunculkan revolusi dalam tubuh masyarakat tersebut. Hal ini dapat  dilihat dari perubahan- perubahan  yang  terjadi  di  Indonesia.  Perubahan-perubahan  timbul karena adanya ketidakpuasan terhadap cara kerja pemerintah.

Artikel Lainnya : 5 Cara Untuk Melakukan Mobilitas Sosial dan Pengertian Lengkap


Faktor Penghambat Perubahan Sosial Budaya

Tidak selamanya perubahan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat berjalan sukses dan berhasil. Ada sebagian masyarakat yang laju perubahan sosial budayanya sangat lamban. Hal ini dikarenakan banyaknya hambatan dalam  proses  perubahan.  Contohnya  suku-suku  pedalaman  di  Papua, masyarakat  tradisional  di  Kepulauan  Maluku,  dan  lain-lain.  Faktor-faktor apa  yang  menjadi  penghambat  masyarakat  untuk  berkembang?  Menurut Soerjono  Soekanto,  terdapat  beberapa  faktor  yang  dapat  menghalangi terjadinya perubahan sosial.


Sikap Masyarakat Tradisional

Sikap  masyarakat  tradisional  biasanya  berupa  sikap  yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau. Mereka beranggapan bahwa  tradisi  tersebut  secara  mutlak  tidak  dapat  diubah.  Anggapan inilah yang menghambat terjadinya perubahan sosial budaya. Keadaan ini akan menjadi lebih buruk apabila golongan konservatif yang berkuasa pada  masyarakat  yang  bersangkutan.  Golongan  konservatif  akan menolak segala bentuk perubahan dan mempertahankan sesuatu yang ada.  Sikap  ini  tampak  pada  masyarakat  yang  kebudayaannya  masih berakar kuat.

Artikel Lainnya : Bentuk Kerja Sama Ekonomi Internasional, Peran dan Lembaga


Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain

Suatu masyarakat yang hidup secara terasing dan kurang berhubungan  dengan  masyarakat  lain  menyebabkan masyarakat  tersebut  mengalami  ketertinggalan  dalam perubahan  sosial  budaya.  Mereka  terkungkung  dengan tradisinya  sendiri  dan  sulit  mengalami  perubahan.


Mereka hanya  mengenal  tradisi  dan  kebudayaannya  sendiri  tanpa mengenal perkembangan kebudayaan masyarakat lain. Padahal perkembangan  kebudayaan  lain  mampu  memperkaya kebudayaan sendiri. Dengan  begitu,  komunikasi  atau  hubungan  antarmasyarakat merupakan kunci terjadinya perubahan sosial budaya.


Dalam hal ini komunikasi  atau  hubungan  adalah  proses  penyampaian  informasi tentang gagasan, ide, keyakinan, dan hasil-hasil budaya berupa fisik. Jadi, terhambatnya komunikasi antarmasyarakat dapat menghambat ter- jadinya perubahan sosial budaya pada masyarakat yang bersangkutan.


Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang Terlambat

Terlambatnya perkembangan ilmu pengetahuan suatu masyarakat dapat dikarenakan kehidupan masyarakat yang terasing dan tertutup. Namun,  dapat  pula  sebagai  akibat  dijajah  oleh  masyarakat  lain.

Masyarakat yang dijajah biasanya dengan sengaja dibiarkan terbelakang oleh  masyarakat  yang  menjajahnya  sehingga  perkembangan ilmu pengetahuan  mereka  pun  menjadi  terlambat.

Maksud  kebijakan  itu supaya  mereka  tetap  bodoh  dan  tertinggal.  Situasi  dan  kondisi  ini memudahkan penjajah untuk tetap menguasai mereka. Pihak penjajah khawatir jika masyarakat yang dijajah memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, mereka sangat mungkin melakukan perubahan dalam hidupnya dengan cara melakukan revolusi atau pemberontakan.


Rasa Takut akan Terjadinya Kegoyahan pada Integrasi Kebudayaan

Semua  unsur  kebudayaan  tidak  mungkin  berinteraksi  dengan sempurna. Namun demikian, terdapat beberapa unsur tertentu memiliki derajat  integrasi  yang  tinggi.  Keadaan  inilah  yang  membuat  suatu masyarakat khawatir dengan datangnya unsur-unsur dari luar. Hal ini dikarenakan unsur-unsur tersebut mampu menggoyahkan integrasi dan menyebabkan  perubahan-perubahan  pada  aspek-aspek  tertentu  di masyarakat.

Artikel Lainnya : Jenis Pranata Sosial, Unsur Tipe dan Fungsinya


Adat dan Kebiasaan

Setiap  masyarakat  memiliki  adat  atau  kebiasaan.  Adat  atau  ke- biasaan  merupakan  pola-pola  perikelakuan  bagi  anggota-anggota masyarakat  dalam  memenuhi  kebutuhan  pokoknya.  Jika  suatu  saat timbul krisis ketika adat dan kebiasaan sudah tidak efektif lagi dalam memenuhi  kebutuhan  pokok  masyarakatnya,  adat  dan  kebiasaan tersebut  tidak  akan  mengalami  perubahan.  Hal  ini  dikarenakan  adat dan kebiasaan sudah terbiasa dilakukan atau dipakai sehingga sangat sulit  untuk  mengubahnya.


Contohnya  kebiasaan  masyarakat  dalam memotong padi dengan pisau yang terbuat dari kayu (ani-ani atau ketam) akan sulit diubah walaupun telah dikenal alat pemotong padi yang lebih efektif. Perubahan tersebut akan berdampak besar bagi tenaga-tenaga kerja (terutama wanita) yang menjadikan memotong padi sebagai mata pencaharian  tambahan.  Selain  itu,  adat  dan  kebiasaan  yang  sukar mengalami  perubahan  biasanya  berupa  kepercayaan,  sistem  mata pencaharian, cara berpakaian tertentu, dan lain-lain.


Faktor Penyebab Perubahan Sosial Budaya

Mempelajari  perubahan  sosial  budaya  dalam  masyarakat  tentu  kita mempelajari pula sebab-sebab terjadinya perubahan-perubahan itu. Secara umum perubahan sosial budaya terjadi karena ketidakpuasan masyarakat terhadap kehidupan lama. Norma-norma dan lembaga-lembaga yang ada dianggap tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidup.

Oleh karena itu, masyarakat menuntut adanya perubahan. Selain itu, perubahan dapat pula terjadi karena terpaksa menyesuaikan bidang kehidupan yang mengalami perubahan terlebih dahulu Menurut  Soerjono  Soekanto,  terdapat  dua  faktor  utama  penyebab perubahan sosial budaya, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

Artikel Lainnya : √ Sistem Ekonomi Pasar : Ciri, Kebaikan dan Keburukan


Faktor Intern

Faktor  intern  merupakan  faktor-faktor  yang  berasal  dari  dalam masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini masyarakat dapat berupa kolektif atau individual. Faktor-faktor internal perubahan sosial budaya sebagai berikut.


Bertambah atau Berkurangnya Penduduk

Bertambah atau berkurangnya penduduk dalam suatu wilayah menyebabkan terjadinya perubahan sosial baik di daerah tujuan maupun  di  daerah  yang  ditinggalkan.  Bertambahnya  penduduk pada  suatu  daerah  mengakibatkan  perubahan  pada  struktur masyarakat  terutama  lembaga-lembaga  kemasyarakatan.  Hal  ini dapat dilihat dengan adanya perpindahan penduduk dari desa ke kota-kota  besar  yang  sering  disebut  urbanisasi.  Akibat  urbanisasi terjadilah  perubahan-perubahan  dalam  sistem  sosial  masyarakat kota.


Adanya  urbanisasi  mencetak  pengangguran-pengangguran  baru  yang  mengakibatkan  meningkatnya angka kriminalitas. Situasi dan kondisi ini menjadikan kota-kota besar menjadi tidak aman. Sementara itu, berkurangnya  penduduk  sebagai  akibat  urbanisasi  menyebabkan terjadinya  kekosongan  pada  daerah  yang  ditinggalkan.


Situasi ini mendorong perubahan pada sistem pembagian kerja,  sistem  stratifikasi  sosial,  pola  pekerjaan,  sistem perekonomian,  dan  lain-lain.  Contohnya  berpindahnya para petani ke kota-kota besar menyebabkan lahan pertanian menjadi tidak berfungsi. Tidak berfungsinya lahan pertanian, tentu membawa dampak pada pola pembagian kerja  di  setiap  keluarga  yang  akhirnya  mendorongperubahan pada sistem perekonomian masyarakat secara keseluruhan.


Penemuan – Penemuan Baru (Inovasi)

Inovasi merupakan suatu proses sosial dan kebudayaan besar yang terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Munculnya inovasi-inovasi  baru  merupakan  tanda-tanda  awal  terjadinya perubahan.  Terjadinya  penemuan-penemuan  baru  dalam masyarakat  melalui  dua  tahap  penemuan  yang  dikenal  dengan istilah discovery dan invention.


Discovery adalah penemuan-penemuan baru dari suatu unsur kebudayaan baru, baik berupa suatu alat yang baru, ataupun berupa suatu  ide  baru  yang  diciptakan  oleh  seorang  individu  atau  serangkaian ciptaan dari individu-individu dalam masyarakat yang bersangkutan. Sebagai contoh, ditemukannya mobil yang didahului dibuatnya motor gas oleh S. Marcus.


Adapun discovery dapat  berubah  menjadi  invention jika masyarakat  sudah  mengakui,  menerima,  bahkan  menerapkan penemuan tersebut. Invention menunjuk pada upaya menghasilkan suatu  unsur-unsur  kebudayaan  lama  yang  telah  ada  dalam masyarakat.  Adanya  mobil  dari  hasil  penyempurnaan  motor  gas sebagai alat transportasi merupakan salah satu wujud invention.


Konflik dalam Masyarakat

Konflik atau pertentangan dalam masyarakat dapat mendorong terjadinya  perubahan  sosial  budaya.  Konflik  berakibat  jatuhnya korban  jiwa  dan  harta  bagi  pihak  yang  bertikai.  Konflik  pernah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, baik yang vertikal maupun horizontal. Misalnya yang terjadi di Pontianak, Ambon, dan Poso.


Ratusan nyawa melayang , pengungsian terjadi secara besar-besaran, dan  situasi  sosial  politik  menjadi  mencekam.  Peristiwa  ini menunjukkan betapa konflik mampu mendorong perubahan sosial budaya.


Terjadinya  Pemberontakan  atau  Revolusi  dalam  Tubuh Masyarakat Sendiri

Terjadinya  pemberontakan  diawali  dengan  adanya  ketidak- puasan  sebagian  masyarakat. Ketidakpuasan  ini  diarahkan  pada sistem  kekuasaan  yang  dianggapnya  tidak  cocok  sehingga mendorong  untuk  keluar  dan  membuat  sistem  kekuasaan  yang berbeda. Rezim yang bertindak despotik atau lalim menimbulkan ketidakadilan  di  masyarakat  sehingga  mendorong  sebagian masyarakat  yang  merasa  tidak  diuntungkan  melakukan  pem- berontakan. Situasi dan kondisi ini memunculkan revolusi sebagai wujud dari pemberontakan.


Adanya revolusi akan membawa perubahan-perubahan besar dalam tubuh masyarakat. Misalnya revolusi Mei tahun 1998 yang terjadi  di  Indonesia.  Perubahan  besar  terjadi  di  Indonesia  baik perubahan kepala negara, wakil kepala negara, struktur kabinet, sampai pada perilaku warga masyarakat, yaitu menjadi lebih berani mengkritisi cara kerja pemerintah.

Artikel Lainnya : Bentuk Perubahan Sosial Budaya : Evolusi, Revolusi dan Pengaruh


Faktor Ekstern

Faktor  ekstern  merupakan  faktor-faktor  yang  berasal  dari  luar masyarakat  yang  dapat  menyebabkan  terjadinya  perubahan  sosial. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut.


Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain

Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal balik. Hal ini berarti tiap-tiap masyarakat mempengaruhi masyarakat lain,  tetapi  juga  menerima  pengaruh  dari  masyarakat  lain  yang bersangkutan.


Apabila hubungan tersebut berlangsung melalui alat- alat  komunikasi  massa  seperti  radio,  televisi,  film,  majalah,  dan surat kabar, terjadi kemungkinan pengaruh hanya datang dari satu pihak, yaitu dari masyarakat yang secara aktif menggunakan alat- alat komunikasi tersebut. Sementara pihak lain hanya menerima pengaruh dan tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan pengaruhnya.

Artikel Lainnya : Bentuk Perlawanan Rakyat dan Pergerakan Kebangsaan


Hubungan  pengaruh  mempengaruhi  dalam  masyarakat  baik langsung  maupun  tidak  langsung  ini  mampu  memunculkan perubahan sosial budaya. Dalam proses ini terjadi penyerapan dan penyebaran  yang  akhirnya  menghasilkan  kebudayaan  baru.


Contohnya  kehidupan  sosial  pasangan  yang  berbeda  kewarga- negaraan.  Hubungan  secara  fisik  yang  sering  mereka  lakukan menciptakan  kebudayaan  baru  dalam  gaya  hidup,  perilaku,  dan cara  pandang.  Selain  itu,  adanya  majalah  yang  berasal  dari  luar membawa perubahan pada life style anak muda Indonesia.


Kondisi Alam Fisik yang Berubah

Terjadinya  gempa  bumi,  gunung  meletus,  tsunami,  musibah banjir menjadikan kondisi alam fisik berubah. Berubahnya kondisi alam memicu munculnya perubahan sosial budaya pada masyarakat yang bersangkutan. Contoh terjadinya banjir di Jakarta pada awal tahun  2008  mengakibatkan  ribuan  warga  harus  mengungsi  ke daerah  yang  aman.  Di  tempat  pengungsian,  mereka  harus beradaptasi  dengan  lingkungan  sekitarnya  baik  lingkungan  fisik maupun sosial. Kondisi ini mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga kemasyarakatan.


Peperangan

Peperangan  juga  dapat  menyebabkan  perubahan sosial budaya. Peperangan terjadi antara masyarakat yang satu  dengan  masyarakat  yang  lain  di  luar  batas-batas negara. Akibat peperangan kehidupan masyarakat menjadi menderita, penuh ketakutan dan kecemasan, harta benda menjadi hancur yang akhirnya membawa kemiskinan.


Negara  yang  menang  dalam  peperangan  akan memaksa negara yang kalah untuk menerima kebudayaannya  yang  dianggap  lebih  tinggi  sehingga  struktur masyarakat mengalami perubahan. Perubahan seperti ini tampak  pada  perubahan-perubahan  yang  terjadi  pada negara-negara yang kalah dalam Perang Dunia II, seperti Jerman  dan  Jepang.  Jerman  mengalami  perubahan  di bidang  kenegaraan,  yaitu  terpecahnya  Jerman  menjadi Jerman  Barat  dan  Jerman  Timur.  Sementara  Jepang berubah dari negara agraris-militer menjadi suatu negara industri.

Demikian penjelasan tentang Perubahan Sosial Budaya : Faktor, Pendorong & Penghambat  semoga bermanfaat, jangan lupa share di teman yang ingin mengetahui materi tentang ilmu pengetahuan sosial di GuruIps.Co.Id semoga bermanfaat, terima kasih