Berkembangnya Kerajaan Majapahit

Letak Geografis Kerajaan Majapahit

Secara geografis letak Kerajaan Majapahit sangat strategis karena adanya di daerah lembah sungai yang luas, yaitu Sungai Brantas dan Bengawan Solo, serta anak sungainya yang dapat dilayari sampai ke hulu, dengan pusat di hutan Tarik di Desa Trowulan Mojokerto, Jawa Timur.

Berdirinya Kerajaan Majapahit

Pada saat terjadi serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bertugas menghadang bagian utara, ternyata serangan yang lebih besar justru dilancarkan dari selatan.

Maka ketika Raden Wijaya kembali ke istana, ia melihat istana Kerajaan Singasari hampir habis dilalap api dan mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama pembesar-pembesar lainnya. Akhirnya ia melarikan diri bersama sisa-sisa tentaranya yang masih setia dan dibantu penduduk desa Kugagu.

Setelah merasa aman ia pergi ke Madura meminta perlindungan dari Arya Wiraraja. Berkat bantuannya ia berhasil menduduki tahta, dengan menghadiahkan daerah tarik kepada Raden Wijaya sebagai daerah kekuasaannya.

Ketika tentara Mongol datang ke Jawa dengan dipimpin Shih-Pi, Ike-Mise, dan Kau Hsing dengan tujuan menghukum Kertanegara, maka Raden Wijaya memanfaatkan situasi itu untuk bekerja sama menyerang Jayakatwang.

Sejarah Kerajaan Majapahit
Sejarah Kerajaan Majapahit

Setelah Jayakatwang terbunuh, tentara Mongol berpesta pora merayakan kemenangannya. Kesempatan itu pula dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentar Mongol, sehingga tentara Mongol terusir dari Jawa dan pulang ke negerinya. Maka tahun 1293 Raden Wijaya naik tahta dan bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.

Berkembangnya Kerajaan Majapahit

Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah.

Pada tahun 1377, beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada, Majapahit melancarkan serangan laut ke Palembang, menyebabkan runtuhnya sisa-sisa kerajaan Sriwijaya.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina.

Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja.

Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.

Adapun raja-raja yang sempat memerintah di Kerajaan Majapahit antara lain:

  1. Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 – 1309)
  2. Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (1309 – 1328)
  3. Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 – 1350)
  4. Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (1350 – 1389)
  5. Wikramawardhana (1389 – 1429)
  6. Suhita (1429 – 1447)
  7. Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (1447 – 1451)
  8. Sri Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (1451 – 1453)
  9. Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (1456 – 1466)
  10. Bhre Pandansalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (1466 – 1468)
  11. Bhre Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 – 1478)
  12. Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (1478 – 1498)
  13. Hudhara, bergelar Brawijaya VII (1498-1518)

Kehidupan Politik

  1. Raden Wijaya (1293-1309 M)

Raden Wijaya memerintah kerajaan Majapahit dari tahun 1293-1309 M. Raden Wijaya sempat memperistri ke empat putri Kertanegara, yaitu Tribhuwana, Narendraduhita, prajnaparamita, dan Gayatri.

Pada awal pemerintahannya terjadi pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh teman-teman seperjuangan Raden Wijaya seperti, Sora, Ranggalawe, dan Nambi.

Pemberontakan-pemberontakan itu terjadi karena rasa tidak puas atas jabatan-jabatan yang diberikan oleh raja. Akan tetapi, pemberontakan itu dapat dipadamkan.

  1. Raja Jayanegara (1309-1328 M)

Raden Wijaya wafat meninggalkan seorang putra yang bernama Kala Gemet. Putra ini diangkat menjadi raja Majapahit dengan gelar Sri Jayanegara (Raja Jayanegara) pada tahun 1309 M.

Masa pemerintahan Jayanegara penuh dengan pemberontakan dan juga dikenal sebagai suatu masa yang suram dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Pemberontakan-pemberontakan itu datang dari Juru Demung (1313 M), Gajah Biru (1314 M), Nambi (1316 M), dan Kuti (1319 M).

Pemberontakan Kuti merupakan pemberontakan yang paling berbahaya dan hampir meruntuhkan Kerajaan Majapahit.

Raja Jayanegara terpaksa mengungsi ke Desa Bedander (tempat ini belum dapat ditentukan dimana letaknya) yang diikuti oleh sejumlah pasukan Bhayangkara (pengawal pribadi raja) dibawah pimpinan Gajah Mada.

Setelah beberapa hari menetap di Desa Bedander maka Gajah Mada kembali ke Majapahit untuk meninjau suasana. Setelah diketahui keadaan rakyat dan para bangsawan istana tidak setuju dan bahkan sangat benci kepada Kuti, Gajah Mada akhirnya merencanakan suatu siasat untuk melakukan serangan terhadap Kuti.

Berkat ketangkasan dan siasat jitu dari Gajah Mada, Kuti dan kawannya dapat dilenyapkan. Raja Jayanegara dapat kembali lagi ke istana dan menduduki tahta Kerajaan Majapahit.

Sebagai penghargaan atas jasa Gajah Mada, maka ia langsung diangkat menjadi Patih di Kahuripan (1319-1321 M), tidak lama kemudian diangkat menjadi Patih di Kediri (1322-1330 M).

  1. Raja Tribhuwanatunggadewi (1328-1350 M)

Raja Jayanegara meninggal tanpa meninggalkan seorang putra mahkota. Tahta Kerajaan Majapahit jatuh ke tangan Gayatri, putri Raja Kertanegara yang masih hidup. Namun, karena ia sudah menjadi seorang pertapa, tahta kerajaan diserahkan kepada putrinya yang bernama Tribhuwanatunggadewi.

Pada masa pemerintahannya, meletus pemberontakan Sadeng (1331 M). Nama Sadeng sendiri adalah nama sebuah daerah yang terletak di Jawa Timur.

Pemberontakan Sadeng dapat dipadamkan oleh Gajah mada dan Adityawarman. Karena jasa dan kecakapannya, Gajah Mada diangkat menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit menggantikan Arya Tadah.

Saat upacara pelantikan, Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal dengan nama sumpah Palapa (Tan Amukti Palapa) yang menyatakan bahwa Gajah Mada tidak akan hidup mewah sebelum Nusantara berhasil disatukan dibawah panji Kerajaan Majapahit.

Sejak saat itu, Gajah Mada menjadi pejabat pemerintahan tertinggi sesudah raja. Ia mempunyai wewenang untuk menetapkan politik pemerintahan Majapahit.

  1. Raja Hayam Wuruk (1350-1389 M)

Raja Hayam Wuruk yang terlahir dari pernikahan Tribhuwanatunggadewi dengan Cakradara (Kertawardhana) adalah seorang raja yang mempunyai pandangan luas.

Kebijakan politik Hayam Wuruk banyak memiliki kesamaan dengan politik Gajah Mada, yaitu mencita-citakan persatuan Nusantara dibawah panji Kerajaan Majapahit.

Pada masa pemerintahannya, Gajah Mada tetap merupakan salah satu tiang utama kerajaan Majapahit dalam mencapai kejayaannya. Bahkan Kerajaan Majapahit dapat disebut sebagai Kerajaan nasional setelah Kerajaan Sriwijaya.

Selama hidupnya, Patih gajah Mada menjalankan politik persatuan nusantara. Cita-citanya dijalankan dengan begitu tegas, sehingga menimbulkan Peristiwa Sunda yang terjadi tahun 1351 M.

Peristiwa itu, berawal dari usaha Raja Hayam Wuruk untuk meminang putri dari Pajajaran, Dyah Pitaloka. Lamaran itu diterima oleh Sri Baduga. Raja Sri baduga beserta putri dan pengikutnya pergi ke Majapahit, dan beristirahat di Lapangan Bubat dekat pintu gerbang Majapahit.

Selanjutnya, timbul perselisihan paham antara Gajah Mada dan pimpinan laskar pajajaran. Gajah Mada ingin menggunakan kesempatan ini agar Pajajaran mau mengakui kedaulatan Majapahit, yakni dengan menjadikan putri Dyah Pitaloka sebagai selir Raja Hayam Wuruk dan bukan sebagai permaisuri.

Hal ini tidak dapat diterima oleh Pajajaran karena dianggap merendahkan derajat. Akhirnya, pecah pertempuran yang mengakibatkan terbunuhnya Sri Baduga dengan putrinya dan seluruh pengikutnya di Lapangan Bubat.

Akibat peristiwa itu politik Gajah Mada menemui kegagalan, karena dengan adanya Peristiwa Bubat belum berarti Pajajaran sudah menjadi wilayah Kerajaan Majapahit. Bahkan Kerajaan Pajajaran terus berkembang secara terpisah dari Majapahit.

Ketika Gajah Mada wafat tahun 1364 M, Raja Hayam Wuruk kehilangan orang yang sangat diandalkan dalam memerintah kerajaan.

Oleh karena itu, Raja Hayam Wuruk mengadakan sidang Dewan Sapta Prabu untuk memutuskan pengganti Patih Gajah Mada. Namun, tidak ada satu orangpun yang sanggup menggantikan Patih Gajah Mada.

Kemudian diangkatlah empat orang menteri dibawah pimpinan Punala Tanding. Hal itu tidak berlangsung lama, keempat orang menteri tersebut digantikan oleh dua orang menteri, yaitu Gajah Enggon dan gajah Manguri.

Akhirnya, Hayam Wuruk memutuskan untuk mengangkat Gajah Enggon sebagai Patih Mangkubumi menggantikan posisi Gajah Mada.

Keadaan Kerajaan Majapahit bertambah suram dengan wafatnya Tribhuwanatunggadewi (ibunda Hayam Wuruk) tahun 1379 M.

Kerajaan Majapahit semakin kehilangan pembantu-pembantu yang cakap. Kemunduran Kerajaan Majapahit semakin jelas setelah wafatnya Raja Hayam Wuruk tahun 1389 M. Berakhirlah masa kejayaan Majapahit.

  1. Wikrama Wardhana (1389-1429 M)

Raja Hayam Wuruk digantikan oleh putrinya yang bernama Kusuma Wardhani. Putri ini menikah dengan Wikrama Wardhana. Tetapi Hayam Wuruk juga mempunyai seorang putra (yang lahir dari selir) bernama Wirabhumi. Wirabhumi diberi kekuasaan diujung timur Pulau Jawa, yaitu di daerah Blambangan sekarang.

Pada mulanya antara Wikrama dan Wirabhumi terjalin suatu hubungan yang baik. Tetapi pada tahun 1400 M, Kusuma Wardhani wafat, sementara Wikrama Wardhana mempunyai maksud untuk menjadi bhiksu.

Hal ini menyebabkan kekosongan dalam pemerintahan Majapahit. Wirabhumi memenfaatkan kesempatan ini untuk merebut kekuasaan di majapahit, sehingga menimbulkan Perang Paregreg antara tahun 1401-1406 M.

Dalam perang ini Wirabhumi dapat dibunuh. Meskipun Perang Paregreg telah berakhir, keadaan Kerajaan Majapahit semakin melemah. Satu persatu daerah kekuasaan melepaskan diri dari kekuasaan pemerintahan pusat. Seiring dengan itu, muncul kekuassaan kerajaan-kerajaan Islam di pesisir.

Suatu tradisi lisan yang terkenal di Pulau Jawa menyatakan bahwa Kerajaan Majapahit hancur akibat serangan dari pasukan-pasukan Islam dibawah pimpinan Raden Patah (Demak).

Pada waktu itu disebutkan bahwa raja yang memerintah di Majapahit adalah Brawijaya V yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Majapahit, karena setelah wafatnya Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan (sekitar awal abad ke-16 M).

  1. Kehidupan Ekonomi

Majapahit merupakan negara agraris dan juga sebagai negara maritim. Kedudukan sebagai negara agraris tampak dari letaknya di pedalaman dan dekat aliran sungai. Kedudukan sebagai negara maritim tampak dari kesanggupan angkatan laut kerajaan itu untuk menanamkan pengaruh Mjapahit diseluruh Nusantara.

Dengan demikian, kehidupan ekonomi masyarakt Majapahit menitikberatkan pada bidang pertanian dan pelayaran. Udara di Jawa panas sepanjang tahun. Panen padi dua kali dalam setahun, butir berasnya amat halus. Terdapat pula wijen putih, kacang hijau, rempah-rempah dll.

Buah-buahan banyak jenisnya, antara lain pisang, kelapa, delima, pepaya, durian, dan semangka. Sayur mayur berlimpah macamnya. Jenis binatang juga banyak.

Untuk membantu pengairan pertanian yang teratur, pemerintah Majapahit membangun dua buah bendungan, yaitu Bendungan Jiwu untuk persawahan dan Bendungan Trailokyapur untuk mengari daerah hilir.

Majapahit memiliki mata uang sendiri yang bernama gobog merupakan uang logam yang terbuat dari campuran perak, timah hitam, timaah putih, dan tembaga. Bentuknya koin dengan lubang ditengahnya. Dalam transaksi perdagangan, selain menggunakan mata uang gobog, penduduk Majapahit juga menggunakan uang kepeng dari berbagai dinasti.

Menurut catatan Wang Ta-yuan pedagang dari Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua. Sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi.

Kehidupan Sosial

Pola tata masyarakat Majapahit dibedakan atas lapisan-lapisan masyarakat (strata) yang perbedaannya lebih bersifat statis. Walaupun di Majapahit terdapat empat kasta seperti India, yang lebih dikenal dengan catur warna, tetapi hanya bersifat teoritis dalam literatur istana.

Pola ini dibedakan atas empat golongan masyarakat, yaitu brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Namun terdapat pula golongan yang berada diluar lapisan ini, yaitu Candala, Mleccha, dan Tuccha, yang merupakan golongan terbawah dari lapisan masyarakat Majapahit.

Brahmana (kaum pendeta) mempunyai kwajiban menjalankan enam dharma, yaitu : mengajar, belajar, melakukan persajian untuk diri sendiri dan orang lain, membagi dan menerima derma (sedekah) untuk mencapai kesempurnaan hidup, dan bersatu dengan Brahman (Tuhan).

Mereka juga mempunyai pengaruh didalam pemerintahan, yang berada pada bidang keagamaan dan dikepalai oleh dua orang pendeta dari agama Siwa (Saiwadharmadhyaksa) dan agama Buddha (Buddhadarmadyaksa).

Saiwadyaksa mengepalai tempat suci (pahyangan) dan tempat pemukiman empu (kalagyan). Buddhadarmadyaksa mengepalai tempat sembahyang (kuti) dan bihara (wihara).  Menteri berhaji mengepalai para ulama (keresyan) dan para pertapa (tapaswi).

Semua rohaniawan menghambakan hidupnya kepada raja yang disebut sebagai wikuhaji. Para rohaniawan biasanya tinggal disekitar bangunan agama, yaitu: mandala, dharma, sima,wihara, dsb.

Kaum Ksatria merupakan keturunan dari pewaris tahta (raja) kerajaan terdahulu, yang mempunyai tugas memerintah tampuk pemerintah.

Keluarga raja dapat dikatakaan merupakan keturunan dari Kerajaan Singasari-Majapahit yang dapat dilihat dari silsilah keluarganya dan keluarga-keluarga kerabat raja tersebar ke seluruh pelosok negeri, karena mereka melakukan sistem poligami secara meluas yang disebut sebagai wargahaji atau semua anggota keluarga raja masing-masing diberi nama atas gelar, umur, dan fungsi mereka didalam masyarakat.

Pemberian nama pribadi dan nama gelar terhadap para putri dan putra raja didasarkan atas nama daerah kerajaan yang akan mereka kuasai sebagai wakil raja.

Waisya merupakan masyarakat yang menekuni bidang pertanian dan perdagangan. Mereka bekerja sebagai pedagang, peminjam uang, penggara sawah, dan beternak.

Kemudian kasta yang paling rendah dalam catur warna adalah kaum sudra yang mempunyai kewajiban untuk mengabdi kepada kasta yang lebih tinggi, terutama pada golongan brahmana.

Golongan terbawah yang tidak termasuk dalam catur warna dan sering disebut sebagai pancama (warna kelima) yaitu:

  • Candala merupakan anak dari perkawinan campuran antara laki-laki (golongan sudra) dengan wanita (dari ketiga golongan lainnya: brahmana, ksatria dan waisya).sehingga sang anak mempunyai status lebih rendah dari ayahnya
  • Mleccha adalah semua bangsa diluar Arya tanpa memandang bahassa dan warna kulit, yaitu para pedagang-pedagang asing (Cina, India, Champa, Siam, dll.) yang tidak menganut agama Hindu.
  • Tuccha ialah golongan yang merugikan masyarakat, salah satu contohnya adalah para penjahat. Ketika mereka diketahui melakukan tatayi, maka raja dapat menjatuhi hukuman mati kepada pelakunya. Perbuatan tatayi adalah membakar rumah orang, meracuni sesama, mengamuk, merusak, dan memfitnah kehormatan perempuan.

Dari aspek kedudukan dalam masyarakat Majapahit, wanita mempunyaai status yang lebih rendah dari lelaki. Hal ini terlihat pada kewajiban mereka untuk melayani dan menyenangkan hati para suami mereka saja. Wanita tidak boleh ikut campur dalam urusan apapun, selain mengurusi daapur rumah tangga mereka.

Dalam undang-undang Majapahit pun para wanita yang sudah menikah tidak boleh bercakap-cakap dengan lelaki lain, dan sebaliknya. Hal ini bertujuan untuk menghindari pergaulan bebas antara kaum pria dan wanita.

Kehidupan Budaya

Nagarakertagama menyebutkan budaya keraton yang adiluhung dan anggun, dengan cita rasa seni dan sastra yang halus, serta sistem ritual keagamaan yang rumit.

Peristiwa utama dalam kalender tata negara digelar tiap hari pertama bulan Caitra (Maret-April) ketika semua utusan dari semua wilayah taklukan Majapahit datang ke istana untuk membayar upeti atau pajak.

Kawasan Majapahit secara sederhana terbagi dalam tiga jenis: keraton termasuk kawasan ibukota dan sekitarnya; wilayah-wilayah di Jawa Timur dan Bali yang secara langsung dikepalai oleh pejabat yang ditunjuk langsung oleh raja; serta wilayah-wilayah taklukan di kepulauan Nusantara yang menikmati otonomi luas.

Perkembangan budaya di Kerajaan Majapahit dapat diketahui dari peninggalan-peninggalan berikut;

  1. Candi

Candi peninggalan Kerajaan Majapahit antara lain Candi Panataran (Blitar), Candi Tegalwangi dan Surawana (Pare, Kediri), Candi Sawentar (Blitar), Candi Sumberjati (Blitar), Candi Tikus (Trowulan), dan bangunan-bangunan purba lainnya, terutama yang terdapat di daerah Trowulan.

  1. Sastra

Hasil sastra zaman Majapahit dapat kita bedakan menjadi, Sastra zaman Majapahit awal, hasil sastra pada zaman ini adalah: Kitab Negarakartagama karangan Mpu Prapanca (1365 M), Kitab Sutasoma dan Kitab Arjunawiwaha karangan Mpu Tantular, Kitab Kunjarakarna tidak diketahui pengarangnya.

Sastra zaman Majapahit akhir, hasil sastra pada zaman Majapahit akhir ditulis dalam bahasa Jawa Tengah, diantaranya ada yang ditulis dalam bentuk tembang (kidung) dan gancaran (prosa). Hasil sastra terpenting antara lain:

  • Kitab Pararaton, menceritakan riwayat raja-raja Singhasari dan Majapahit
  • Kitab Sundayana, menceritakan Peristiwa Bubat
  • Kitab Sorandaka, mencerikatan Pemberontakan Sora
  • Kitab Ranggalawe, menceritakan pemberontakan Ranggalawe
  • Panjiwijayakrama, menguraikan riwayat Raden Wijaya sampai menjadi raja
  • Kitab Usana Jawa, tentang penaklukan Pulau Bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar, pemindahan keraton Majapahit ke Gelgel, dan penumpasan raja raksasa Maya Denawa
  • Kitab Usana Bali, tentang kekacauan di Pulau bali akibat keganasan Maya Denawa yang akhirnya dibunuh oleh dewa.
  • Selain kitab-kitab tersebut, masih ada kitab-kitab sastra lainnya seperti Paman Cangah, Tantu Pagelaran, Calon Arang, Korawasrama, Babhuksah, Tantri Kamandaka, dan Pancatantra

Kehidupan Agama

Pada masa kerajaan Majapahit berkembang agama Hindu Syiwa dan Buddha. Kedua umat beragama itu memiliki toleransi yang besar sehingga tercipta kerukunan umat beragama yang baik.

Raja Hayam Wuruk beragama Syiwa, sedangkan Gajah Mada beragama Buddha. Namun, mereka dapat bekerja sama dengan baik.

Rakyat ikut meneladaninya, bahkan Empu Tantular menyatakan bahwa kedua agama itu merupakan satu kesatuan yang disebut Syiwa-Buddha. Hal itu ditegaskan lagi dalam Kitab Sutosoma dengan kalimat Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa artinya walaupun beraneka ragam, teta dalam satu kesatuan, tidak ada agama yang mendua.

Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Kemunduran Majapahit berawal sejak wafatnya Gajah Mada pada tahun 1364. Hayam Wuruk tidak dapat memperoleh ganti yang secakap Gajah Mada.

Jabatan-jabatan yang dipegang Gajah Mada (semasa hidupnya, Gajah Mada memegang begitu banyak jabatan) diberikan kepada tiga orang. Setelah Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389, Majapahit benar-benar mengalami kemunduran.

Masa sesudah Prabu Hayam Wuruk dan Gajah Mada merupakan masa kemunduran Kerajaan Majapahit. Beberapa hal yang menyebabkan kemunduran Majapahit adalah sebagai berikut.

  • Tidak ada tokoh pengganti yang cakap dan berwibawa sesudah wafatnya Hayam Wuruk (1389) dan Gajah Mada (1364).
  • Perang Paregreg (1401-1406) antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana telah melemahkan Majapahit secara keseluruhan.
  • Banyak negeri bawahan Majapahit yang mencoba melepaskan diri.
  • Armada Cina dibawah pimpinan Laksamana Ceng-ho sering membuat kekacauan di wilayah laut Majapahit.
  • Berkembangnya agama Islam di pesisir pantai utara Pulau Jawa telah mengurangi dukungan terhadap Kerajaan Majapahit.
  • Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka.
  • kekuatan Majapahit telah melemah akibat konflik dinasti ini dan mulai bangkitnya kekuatan kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa.

Waktu berakhirnya Kemaharajaan Majapahit berkisar pada kurun waktu tahun 1478 (tahun 1400 saka, berakhirnya abad dianggap sebagai waktu lazim pergantian dinasti dan berakhirnya suatu pemerintahan) hingga tahun 1527.

Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi.

Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bhre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana.

Menurut prasasti Jiyu dan Petak, Ranawijaya mengaku bahwa ia telah mengalahkan Kertabhumi dan memindahkan ibu kota ke Daha (Kediri).

Peristiwa ini memicu perang antara Daha dengan Kesultanan Demak, karena penguasa Demak adalah keturunan Kertabhumi. Peperangan ini dimenangi Demak pada tahun 1527.

Sejumlah besar abdi istana, seniman, pendeta, dan anggota keluarga kerajaan mengungsi ke pulau Bali. Pengungsian ini kemungkinan besar untuk menghindari pembalasan dan hukuman dari Demak akibat selama ini mereka mendukung Ranawijaya melawan Kertabhumi.

Dengan jatuhnya Daha yang dihancurkan oleh Demak pada tahun 1527, kekuatan kerajaan Islam pada awal abad ke-16 akhirnya mengalahkan sisa kerajaan Majapahit.

Demikian pembahasan dari kami tentang Kerajaan Majapahit secara lengkap dan jelas, semoga bermanfaat jangan lupa di share guruips.co.id semoga bermanfaat