Kerajaan Tarumanegara

Sejarah Berdirinya Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Terumanegara dibangun oleh raja Jayasinghawarman ketika memimpin pelarian keluarga kerajaan dan berhasil meloloskan diri dari musuh yang terus menerus menyerang kerajaan Salakanagara.

Di pengasingan, tahun 358 M, Jayasinghawarman mendirikan kerajaan baru di tepi Sungai Citarum, di Kabupaten Lebak Banten dan diberi nama Tarumanegara.

Nama Tarumanegara diambil dari nama tanaman yang bernama tarum, yaitu tanaman yang dipakai untuk ramuan pewarna benang tenunan dan pengawet kain yang banyak sekali terdapat di tempat ini.

Tanaman tarum tumbuh di sekitar Sungai Citarum. Selain untuk pengawet kain, tanaman ini merupakan komoditas ekspor dan merupakan devisa pemasukan terbesar bagi Kerajaan Tarumanegara. Raja Jayasinghawarman berkuasa dari tahun 358-382 M.

Setelah raja mencapai usia lanjut, raja mengundurkan diri untuk menjalani kehidupan kepanditaan. Sebagai pertapa, Jayasinghawarman bergelar Rajaresi. Nama dan gelar raja menjadi Maharesi Rajadiraja Guru Jayasinghawarman.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Kutai

Kerajaan Tarumanegara banyak meninggalkan Prasasti , sayangnya tidak satupun yang memakai angka tahun. Untuk memastikan kapan Tarumanegara berdiri terpaksa para ahli berusaha mencari sumber lain. Dan usahanya tidak sia-sia.

Setelahnya ke Cina untuk mempelajari hubungan Cina dengan Indonesia dimasa lampau mereka menemukan naskah-naskah hubungan kerajaan Indonesia dengan kerajaan Cina menyebutnya Tolomo.

Menurut catatan tersebut, kerajan Tolomo mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 528 M, 538 M, 665 M, 666M. sehingga dapat disimpulkan Tarumanegara berdiri sejak sekitar abad ke V dan ke VI.

Masa kejayaan Tarumanegara diperkirakan berada pada tahun 395-434, saat diperintah oleh Purnawarman. Ia membangun ibukota kerajaan baru pada tahun 397. Ibukota ini letaknya lebih dekat ke pantai dan terkenal dengan nama Sundapura.

Di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 kerajaan daerah di bawah Tarumanegara. Wilayahnya terletak mulai dari sekitar Pandeglang (Rajatapura ) hingga Purwalingga (diduga inilah asal usul nama kota Purbalingga) di Jawa Tengah. Secara umum wilayah kekuasaan meliputi hampir seluruh Jawa Barat; dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon

Pada masa Suryawarman berkuasa lebih banyak lagi kerajaan daerah yang dibangun. Pada tahun 526 misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan Kendan, yang terletak di kawasan Nagreg, wilayah perbatasan Bandung-Garut sekarang. Lalu pada masa Kertawarman (561-628) berdiri pula Kerajaan Galuh.

Sumber Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Dalam Sumber yang kami dapat ada 3, diantaranya Prasasti, Arca dan Sumber Lainnya,untuk lebih jelasnya sebagai berikut ini :

Prasasti

  1. Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor)

Sebelumnya dikenal dengan nama prasasti Ciampea, terletak di pinggir sungai Ciaruteun, dekat muaranya dengan Cisadane. Di atasnya terdapat lukisan laba-laba dan tapak kaki yang dipahatkan di atas aksaranya.

Prasasti terdiri dari 4 baris, ditulis dalam bentuk puisi India dengan irama anustubh (Anustubh: jumlah suku kata pada masing-masing baris dalam satu bait puisi Jawa kuno sebanyak 8 suku kata).

Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara
Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara

Prasasti ini mengingatkam adanya hubungan dengan prasasti raja Mahendawarman I dari keluarga Pallawa. Bunyi dari prasasti ini ialah :

vikrantasyavanipateh

srimatah purnavarmmanah

tarumanegarendrasya

visnor iva padadvayam

‘’Ini (bekas) dua kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia’’

  1. Prasasti Jambu/ Pasir Koleangkak

Di temukan di bukit, daerah perkebunan Jambu kira-kira 30 km sebelah barat Bogor. Bunyi dan terjemahan prasasti ini adalah :

  • sriman-data krtajno narapatir- asamo yah pura/ta/r/u/maya/m/namna sri-purnnavarmma pracura-ripusarabhedya-vikhyatavarmmo
  • tasyedam-padavimbadvayam-arinagaroysadane nityadaksambhaktanamyandripanam- bhavati sukhakaram salyabhutam ripunam

‘’ gagah, memgagumkan dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya- yang termashur Sri Purnnawarman- yang sekali waktu( memerintah) di Taruma dan yang baju zirahnya yang terkenal (=varmman) tidak dapat di tembus senjata musuh.

Baca Juga : Keadaan Masyarakat Pada Masa Kerajaan Singasari

Ini adalah sepasang tapak kakinya, yang senantiasa berhasil menggempur kota-kota musuh, hormat kepada para pangeran, tapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya’’

Dari Prasasti diatas kita dapat keterangan bahwa Purnawarman suka memakai Warman (baju Zirah/Besi) yang tidak dapat ditembus senjata. Dari itu juga kita tahu dia sering berperang dan menggempur kota – kota musuhnya.

  1. Prasasti Kebon Kopi (kampung Muara Hilir, Cibungbulang)

Terdapat dua tapak kaki gajah yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata. Bunyinya sebagai berikut:

jayavsalasya taruma/ ndra/ sya ha/st/inah- sira/ vatabhasya vibhatidam- padavayam

‘’ Disini nampak sepasang tapak kaki….yang seperti Airavata, gajah penguasa taruma (yang) agung dalam….dan(?) kejayaan’’

  1. Prasasti Tugu (Tugu, Jakarta)

Merupakan prasasti terpanjang dari semua peninggalan Purnawarman. Tulisannya dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang secara melingkar.

Yang khas dari prasasti ini adalah:Di dalamnya disebutkan nama dua sungai yang terkenal di Panjab, yaitu sungai Candrabhaga dan Gomati.

  • Merupakan satu-satunya prasasti purnawarman yang menyebutkan anasir penanggalan namun tidak memuat angka tahun yang pasti, hanya menyebutkan phalguna dan caitra yang bertepatan dengan bulan Februari- April.
  • Menyebutkan dilakukannya upacara selamatan oleh Brahmana diserati 1000 ekor sapi yang dihadiahkan
  • Menyebutkan dua nama lain dari Purnawarman
  • Candrabhaga merupakan nama sungai India yang diberikan kepada sebuah sungai di Jawa dan nama itu sekarang dikenal dengan nama Bekasi, Chandrabagha dapat diartikan menjadi bekasi = Bhagasasi = Baghacandra = Chandabagha (Sasi = Candra = Bulan), yang diduga pusat Kerajaan Tarumanegara. Bunyi Prasasti Tugu sebagai berikut :

pura rajadhirajena guruna inabahuna

khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau

pravarddhamana-dvavinsad-vatsare srigunaujasa

narendradhvajabhutena srimata purnnavarmmana

caitrasukla-trayodsyam dinais siddhaikavinsakaih

ayata satrasahasrena dhanusam sasaterna ca

dvavinsena nadi ramya gomati nirmalodaka

pitamahasya rajasser vvidarya sibiravanim

brahmanair ggo-sahasrena prayati krtadaksina

‘’Dulu (kali yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan mempuyai lengan kencang dan kuat( yakni raja Purnawarman) untuk mengalirkannya ke laut setelah kali ini sampai di istana kerajaan yang termasyur.

Di dalam tahun keduapuluh-duanya dari tahta yang mulai raja Purnawarman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaanya serta menjadi panji segala raja, maka sekarang beliau menitahkan pula menggali kali yang permai dan berair jenih, Gomati namanya, setelah sungai itu mengalir di tengah-tengah tanah kediaman yang mulia Sang Pendeta nenek-da( Sang Purnawarman).

Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, tanggal 8 paro-petang bulan Phalguna dan disudahi pada tanggal 13 paro terang bulan Caitra, jadi hanya 21 saja, sedang galian itu panjangnya 6.122 tumbak (12 km).

Baca Juga : Sejarah Berdirinya Kerajaan Tarumanegara

Selamatan baginya dilakukan oleh para brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan ‘’ Pembuatan galian tersebut yang jelas untuk pengairan sawah dan pengantisipasi banjir.

Dari sini kita lihat Purnawarman raja yang memperhatikan kesejahteraan rakyat. Penggalian ini juga memeperhatikan kesejahteraan rakyat. Penggalian ini juga memperlihatkan bahwa pengetahuan bertani Tarumanegara sudah cukup maju.

Menurut para ahli sejarah, kemungkinan besar sungai yang digali adalah terusan untuk membantu pengaliran sungai Bekasi, sebab disebutkan sungai Candrabagha. Menurut Prof.

Purbacaraka Chandrabagha dapat diartikan menjadi bekasi = Bhagasasi = Baghacandra = Chandabagha (Sasi = Candra = Bulan)

Selaian itu Prasasti tugu ini. Mempunyai unsur penanggalan tetapi tidak memakau angka tahun. Dalam Prasasti tugu terdapat kata Phalaguna dan Carita. Yaitu bulan yang bertepatan dengan pebruari – april dalam tarikh Masehi

  1. Prasasti Pasir Awi (Pasir Awi, Bogor)

Tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca. Pada prasasti ini juga terdapat gambar tapak kaki.

  1. Prasasti Muara Cianten (muara Cianten, Bogor)

Prasasti ini di temukan di muara Cianten Bogor , prasasti ini juga terdapat telapak kaki. Sayang tulisannya belum dapat diartikan sebab tulisannya dalam huruf ikal sehingga tidak banyak yang diketahui tentang isinya.

Baca Juga : Kronologi Terjadinya Perang Padri

  1. Prasasti Cidanghiang atau Lebak

Ditemukan di kampung Lebak, pinggir Sungai Cidanghiang, kecamatan Munjul, kabupaten Pandeglang, Banten.

Prasasti Cidanghiyang dilaporkan pertama kali oleh Toebagus Roesjan kepada Dinas Purbakala tahun 1947 (OV 1949:10), tetapi diteliti pertama kali tahun 1954 dan berisi dua baris aksara yang merupakan satu Sloka dalam metrum anustubh. Bunyi prasasti ini:

vikranto yam vanipateh prabhuh satyapara (k) ra (mah)

narendraddvajabhutena srimatah purnnavarmmanah

“Inilah tanda keperwiraan, keagungan dan keberanian yang sesungguh-sungguhnya dari raja dunia, yang mulia Purnawarman, yang menjadi panji sekalian raja”

Dari Prasasti ini kita bisa tahu rupanya Raja Purnawarman seorang raja yang perkasa yang mempunyai wilayah kekuasaan yang luas. Dia banyak menaklukan raja – raja di daerah sekitarnya.

Baca Juga : Proses Perlawanan Perang Diponegoro

Arca

  1. Arca Rajasi

Diperkirakan ditemukan di Jakarta.menggambarkan rajarsi yang menggambarkan sifat-sifat Wisnu-Surya. Ada yang berpendapat bahwa arca itu adalah arca Siwa dari abad II.

  1. Arca Wisnu Cibuaya I

Berasal dari abad 7 dan bisa dianggap bisa melengkapi prasasti-prasasti Purnawarman. Arca ini memperlihatkan adanya persamaan dengan arca yang ditemukan di Kemboja, Siam dan Semenanjung Melayu.

  1. Arca Wisnu Cibuaya II( di desa Cibuaya)

Terdapat kesamaan dengan arca-arca dari seni Pala abad ke 7-8, yaitu:

  • Jenis batu yang digunakan
  • Bentuk arca dan laksananya
  • Bentuk badan
  • Makuta

Sumber Lain

  1. Fa-Hien

Dia adalah musafir Cina (pendeta Budha) yang terdampar di Yepoti (Yawadhipa/Jawa) tepatnya Tolomo (Taruma) pada tahun 414.

Dalam catatannya disebutkan rakyat Tolomo sedikit sekali memeluk Budha yang banyak dijumpainya adalah Brahmana.

Fa Hien juga menyebutkan dalam bukunya Fa Kuo Chien bahwa rakyat Tolomo bermata pencaharian bertani, berdagang dan pandai membuat minuman dari malai kelapa.

Baca Juga : Sistem Pemerintahan Kerajaan Singasari

Dari bukti-bukti yang ada, para ahli sejarah menduga Tolomo/ Taluma menurut Fa hien adalah Tarumanegara

  1. Dinasti Soui

Selain berita Fa Hien keberadaan Taruma juga diperkuat dari berita Dinasti Soui, bahwa tahun 528 dan 535 datang utusan dari Negeri Tolomo yang terletak disebelah selatan

  1. Dinasti Tang Muda

Berita dinasti Tang Muda menyebutkan tahun 666 dan tahun 669 M datang utusan dari Tolomo nama Tolomo di duga lafal bahasa Cina untuk Tarumanegara.

  1. Dinasti Tang( 618-906)

Menyebutkan nama sebuah daerah bernama Ho-ling atau Jawa, yang terletak di Lautan Selatan, sebelah timur Sumatra dan sebelah barat Bali.

Nama Ho-ling oleh para sarjana disesuaikan dengan Kalinga yang letaknya diperkirakan di Jawa Tengah Utara/ Walaing.

Daerah yang disebut Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas , perak, cula badak dan gading gajah. Sedangkan penduduknya membuat benteng-benteng kayu dan rumah-rumah mereka beratap daun kelapa.

Letak dan Wilayah Kekuasaan

Dari sumber – sumber di atas dapat disimpulkan bahwa Tarumanegara terletak di Jawa Barat. Pusatnya belum dapat dipastikan, namun para ahli menduga kali Chandabagha adalah kali Bekasi, kira – kira anatar sungai Citarum dan sungai Cisadane.

Adapun wilayah kekuasaan kerajaan Tarumanegara meliputi daerah Banten, Jakarta, sampai perbatasan Cirebon. Raja-raja Tarumanagara menurut Naskah Wangsakerta (Naskah Wangsakerta adalah istilah yang merujuk pada sekumpulan naskah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta secara pribadi atau oleh “Panitia Wangsakerta”.)

Raja-raja Tarumanegara

No       Raja                                         Masa pemerintahan

  • Jayasingawarman 358-382
  • Dharmayawarman 382-395
  • Purnawarman 395-434
  • Wisnuwarman  434-455
  • Indrawarman 455-515
  • Candrawarman 515-535
  • Suryawarman 535-561
  • Kertawarman 561-628
  • Sudhawarman 628-639
  • Hariwangsawarman 639-640
  • Nagajayawarman 640-666
  • Linggawarman 666-669

Kehidupan Masyarakat

  1. Kehidupan Politik

Raja Purnawarman adalah raja besar yang telah berhasil meningkatkan kehidupan rakyatnya. Hal ini dibuktikan dari prasasti Tugu yang menyatakan raja Purnawarman telah memerintah untuk menggali sebuah kali.

Penggalian sebuah kali ini sangat besar artinya, karena pembuatan kali ini merupakan pembuatan saluran irigasi untuk memperlancar pengairan sawah-sawah pertanian rakyat.

  1. Kehidupan Sosial

Kehidupan sosial Kerajaan Tarumanegara sudah teratur rapi, hal ini terlihat dari upaya raja Purnawarman yang terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyatnya.

Raja Purnawarman juga sangat memperhatikan kedudukan kaum brahmana yang dianggap penting dalam melaksanakan setiap upacara korban yang dilaksanakan di kerajaan sebagai tanda penghormatan kepada para dewa.

  1. Kehidupan Ekonomi

Prasasti tugu menyatakan bahwa raja Purnawarman memerintahkan rakyatnya untuk membuat sebuah terusan sepanjang 6122 tombak.

Pembangunan terusan ini mempunyai arti ekonomis yang besar bagi masyarakat, karena dapat dipergunakan sebagai sarana untuk mencegah banjir serta sarana lalu-lintas pelayaran perdagangan antar daerah di Kerajaan Tarumanegara dengan dunia luar.

Juga perdagangan dengan daerah-daerah di sekitarnya. Akibatnya, kehidupan perekonomian masyarakat Kerajaan Tarumanegara sudah berjalan teratur.

  1. Kehidupan Budaya

Dilihat dari teknik dan cara penulisan huruf-huruf dari prasasti-prasasti yang ditemukan sebagai bukti kebesaran Kerajaan Tarumanegara, dapat diketahui bahwa tingkat kebudayaan masyarakat pada saat itu sudah tinggi.

Selain sebagai peninggalan budaya, keberadaan prasasti-prasasti tersebut menunjukkan telah berkembangnya kebudayaan tulis menulis di kerajaan Tarumanegara.

Segi yang sangat penting didalam kehidupan suatu masyarakat, adalah mata pencaharian masyarakat pada saat itu. Berdasarkan bukti-bukti dan sumber yang ada sampai saat ini, dapatlah diduga bagaimana kira-kira mata pencaharian penduduk pada zaman Tarumanegara.

Baca Juga : Bukti Sejarah Peninggalan Kerajaan Kutai

Kalau dugaan tentang barang-barang dagangan yang berasal dari daerah Ho – ling dapat diterima, maka kita memperoleh gambaran bahwa pada masa itu perburuan, pertambangan, perikanan dan perniagaan termasuk mata pencarian penduduk Tarumanegara disamping pertanian, pelayaran, dan perternakan.

Bukti pada masa itu ada perburuan adalah , adanya berita tentang perdagangan cula badak dan gading gajah, sedangkan gajah dan badak adalah hewan liar.

Dari situlah disimpulkan untuk mendapatkan itu, mereka harus berburu. Sedang perikanan, pada masa itu terjadi jual beli kulit penyu. Untuk pertambangan, kita peroleh dari perdagangan mas dan perak.

Jelaslah telah disebutkan berulang kali perdangan ini membuktikan adanya perniagaan pada saat itu . Pada prasasti tugu disebutkan usaha pembuatan saluran yang dilakukan pada tahun ke dua pulah dua tahun pemerintahan Raja Purnawarman.

Yang kegunaanya untuk mengatasi banjir yang selalu melanda daerah pertanian di sekitar itu,. Selain itu ditemukan alat dari batu yang erat hubunganya dengan pertanian. Sedangkan perternakan belum tau adanya bukti.

Mengenai pelayaran, barang kali ini tidak usah disangsikan lagi, karena letak Tarumanegara yang cukup streategis dijalan nusantara, membuat adanya keterampilan penduduknya dibidang pelayaran .

Untuk teknologi belum ditemukan buktinya namun, pada saat itu mereka telah mempunyai kepandaian membuat minuman arak yang terbuat dari mayang, nira dari bunga kelapa. Selain ini makan pokok pada saat itu adalah beras, selain beras mereka makan buah –buahan serta daging .

Pada saat itu perhubungan Tarumanegara dengan kerajaan lain menggunakan perhubungan air. Mengenai hubungan darat ,dapat diperkiraan dengan adanya data bahwa lembu merupakan hewan piaraan.

Rupanya selain untuk hadiah kepada kaum Brahmana dan pertanian, hewan ini juga dipergunakan untuk melakukan hubungan dalam negeri, dari satu tempat ke tempat lain, yang tidak terlalu berjauhan letaknya.

Berdasarkan sumber-sumber yang sangat tidak lengkap itu, dapat diperkirakan golongan masyarakat pada masa itu ialah kaum tani, pemburu, pedagang pelaut ,nelayan, dan peternak walaupun demikian, tidak dapat dipastikan, bagaimana pembagian kerja itu dilakukan.

Ditinjau dari segi budaya, golongan terbagi menjadi dua yaitu golongan masyarakat berbudaya hindu dan golongan masyarakat berbudaya asli .

Menurut bukti yang ada kita hanya mengetahui adanya aksara pallawa dan bahasa sansekerta pada masa itu. Namun berita dari Cina menyebutkan adanya suatu bahasa dengan nama kwun lun  yang digunakan baik di Jawa maupun di Sumatra.

Kwunlun ini adalah bahasa Indonesia yang tercampur dengan bahasa sansekerta. Dari berita fa – shien jelas, bahwa pada awal abad ke 5 di Tarumanagara terdapat tiga macam agama, yaitu agama Budha, Hindu dan agama yang kotor dan dari ketiga agama tersebut agama Hindulah yang paling banyak karena diperkuat dengan berbagai macam prasasti yang ditemukan.

Antara lain Prasasti Tugu, Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Kolengkak. Apa yang kita ketahui tentang agama Budha di Tarumanegara, sama sekali terbatas kepada berita Fa shien yang mengatakan bahwa pada waktu itu terdapat sedikit sekali orang beragama Budha termasuk dia.

Agama kotor adalah agama yang sudah lama ada sebelum masuknya pengaruh India ke Indonesia . Lapisan masyarakat Tarumanegara di duga terdiri dari:

  • Keluarga raja dan kaum bangsawan (pangeran) yang memerintah kerajaan
  • Kaum Brahmana yang memimpin upacara agama dan mengembangkan agama Hindu
  • Rakyat yang terdiri dari pemburu, pedagang, petani, pelayar, penambang, peternak
  • Budak – budak

Agama yang dianut adalah:

  • Agama Hindu seperti yang di anut Purnawarman
  • Agama Budha meskipun hanya sedikit
  • penganut animisme dan dinamisme

Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara

Pada tahun 669, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Kerajaan Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya.

Secara otomatis, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh kepada menantunya dari putri sulungnya, yaitu Tarusbawa. Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa. Ia memilih mengembangkan Kerajaan Sunda yang sebelumnya merupakan kerajaan daerah yang berada dalam kekuasaan Tarumanagara.

Atas pengalihan kekuasaan ke Kerajaan Sunda ini, kerajaan lain bernama Kerajaan Galuh memutuskan untuk berpisah dari Kerajaan Sunda.

Akhirnya wilayah bekas Kerajaan Tarumanegara dibagi menjadi dua, sehingga kekuatan kerajaan Tarumanagara menjadi lemah. Tahun 686 Kerajaan Tarumanegara runtuh ditaklukan Dapunta Hyang Salendra, yaitu raja Sriwijaya dari Kedah.

Dalam prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di dekat Palembang mempunyai angka tahun 605 Caka atau sama dengan 683 Masehi, menerangkan tentang perjalanan penjelajahan Raja Dapunta Hyang Cri Jayanaca.

Raja berangkat dari Minangatamwan dengan armada berkekuatan 20.000 tentara dan menaklukan beberapa daerah sehingga menjadikan Palembang sebagai Bandar pelabuhan terbesar di Sumatra (Suwarna Dwipa).

Dalam sejarah, Palembang menjadi tempat penting untuk pusat ziarah umat beragama Buddha Mahayana. Karena kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada tahun 670 M dan didirikannya Bandar pelabuhan Palembang, maka kekuatan armada laut semakin kuat dan bertambah besar sehingga dengan mudah memperluas kekuasaannya di Tanah Jawa termasuk Kerajaan Tarumanegara.

Demikian pembahasan dari kami tentang Kerajaan Tarumanegara Prasasti, Letak dan Kehidupan Masyarakat Secara lengkap dan jelas, semoga bermanfaat jangan lupa di share guruips.co.id